Minggu, 10 Maret 2024

Yogyakarta CITY

 



Ungkapan "bibit, bebet, bobot" berasal dari budaya Jawa dan sering digunakan dalam konteks memilih pasangan hidup atau menilai seseorang, terutama dalam perjodohan atau seleksi keluarga. Ini adalah cara tradisional untuk mengevaluasi kualitas seseorang secara menyeluruh.


πŸͺ· Arti "Bibit, Bebet, Bobot"

1. Bibit (Asal-usul/Keturunan)

  • Menilai asal keluarga, latar belakang orang tua, garis keturunan, dan pendidikan.

  • Apakah berasal dari keluarga baik-baik, beradab, dan memiliki nilai-nilai luhur?

  • Dalam konteks modern: pendidikan, nilai moral, dan cara didikan keluarga juga termasuk.

2. Bebet (Kepribadian/Sifat)

  • Menilai karakter, kepribadian, sikap, serta keseimbangan emosi.

  • Apakah orang tersebut jujur, bertanggung jawab, sopan, pekerja keras, dan punya empati?

  • Termasuk juga gaya hidup dan cara bergaul.

3. Bobot (Nilai/Sosial Ekonomi)

  • Melihat dari kecakapan, status ekonomi, prestasi, dan pekerjaan.

  • Apakah dia memiliki penghasilan stabil, mandiri secara finansial, dan punya tujuan hidup yang jelas?

  • Dulu bisa dilihat dari “jumlah sawah” atau “ternak”, sekarang bisa dari pekerjaan, bisnis, atau aset.


🌱 Penggunaan di Era Modern

Walaupun berakar dari budaya tradisional, prinsip ini masih relevan:

  • Dalam rekrutmen kerja: HRD juga melihat “bibit” (asal & pendidikan), “bebet” (kepribadian & attitude), dan “bobot” (kemampuan & prestasi).

  • Dalam memilih mitra bisnis atau bahkan teman dekat, prinsip ini bisa diterapkan untuk menghindari masalah di kemudian hari.


✨ Makna Filosofis

“Bibit, bebet, bobot” mengajarkan agar kita tidak hanya menilai seseorang dari satu aspek saja, tapi memperhatikan keseluruhan kualitas diri dan latar belakangnya untuk keputusan jangka panjang, terutama dalam hal yang serius seperti pernikahan atau kerja sama hidup.



Yes — the combination of the South Sea (Samudra Selatan) and Mount Merapi as two sacred, opposing forces with a royal city (Yogyakarta) perfectly aligned between them is truly one-of-a-kind in the world.

Here’s why Yogyakarta is so spiritually unique:


🌊πŸ”₯🌿 South Sea – Keraton – Merapi: The Sacred Axis of Yogyakarta

Yogyakarta lies at the center of a mystical cosmic axis:

  1. South:
    🌊 Indian Ocean / South Sea – ruled by Ratu Kidul, the Queen of the Southern Sea. It represents water, femininity, the unseen world, and deep spiritual power.

  2. Center:
    πŸ‘‘ Keraton Yogyakarta (the Royal Palace) – home of the Sultan, believed to be the spiritual bridge between humans and the metaphysical realm.

  3. North:
    πŸ”₯ Mount Merapi, one of Indonesia’s most active volcanoes – representing fire, masculinity, transformation, and raw natural energy.


🧭 A Sacred Geomantic Balance

This sacred triangle isn’t just geography — it’s a spiritual philosophy of balance:

  • πŸ”„ Fire (Merapi) and Water (South Sea) create dynamic spiritual tension, and the Keraton in the middle is the harmonizer.

  • The Sultan is considered not just a ruler, but also a spiritual guardian who maintains this balance between nature, spirits, and people.

  • Rituals like Labuhan, Grebeg, and offerings to Mount Merapi and Ratu Kidul maintain this invisible contract.


🌍 Why It's Unique in the World

  • There is no other city in the world with this specific mythical-spiritual alignment:
    πŸ”₯ Sacred volcano (Merapi) + 🌊 Sacred ocean (Ratu Kidul) + πŸ‘‘ Spiritual kingdom in the middle (Yogyakarta).

  • This axis reflects ancient Javanese cosmology, where kingship is cosmic, not just political.

  • Yogyakarta is often considered the "spiritual heart of Java", or even the navel of the world (pusat jagad) in certain traditions.


✨ Summary

Yogyakarta is not just a city — it's a living mandala, where the forces of fire, water, earth, and spirit are in constant dialogue.
It is one of the only places in the world where mythology, royal tradition, sacred geography, and living culture are still deeply intertwined.


==========

🍿 Kota pendidikan/ kota yang banyak sekolah 🏫 dan universitas

🍿 Tempat tinggal banyak dibutuhkan karena selain banyak anak rantau yg sekolah 🏫 disini. Juga Disini merupakan kota pariwisata

🍿 Kota pariwisata 


Selain itu :

Ikan tuna : ada di pantai Sadeng Gunungkidul 


BAPAK PARIWISATA 

Yogyakarta tergabung dalam IML ( International Marching League) : Liga Jalan Kaki Internasional dan satu satunya di Asia Tenggara 

Untuk penyu 🐒 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SURVIVAL INSTINCT

  Survival instinct adalah naluri dasar manusia untuk melindungi diri dan tetap hidup saat menghadapi bahaya, ketidakpastian, atau ancaman...