Someone asked me : will you accept if I give you 100 millions free?
Me : yes
Someone : but tomorrow you must die, will you still accept it?
Me : no. Of course not
Someone: then smile. Your smile and your life is precious, priceless than any money in the world 🌍
Kelemahan atau kelebihan? Saya tidak suka men charge orang. Saya ingin memberikan gratis ke orang
Saya punya banyak skill, bertalenta, pintar, smart 🤓. Per 25 Agustus 2026...setelah 16 tahun ++ saya mulai usaha pribadi sebagai pionir entrepreneur di jaman kuliah dimana teman saya tidak melihat itu...saat ini adalah masa dimana rasanya stuck.. terlalu banyak penjual. Terlalu banyak iklan dan rumah makan yang menggoda kita untuk konsumsi lebih daripada produksi.. sementara platform pemasukan kini sangat kecil dan hampir tidak ada..
Produce more. Easy as sound but not easy too. Biaya fee untuk berjualan tidak masuk akal.. Dikala mayoritas orang terjepit.
Tapi saya menyadari satu hal...saya tidak suka men charge orang..saya lebih suka memberi. Waktu jadi asisten dosen, walaupun saya created metode..saya tidak dibayar lebih. Saya dibayar sama dengan teman saya yang tidak bikin metode.. waktu saya buka toko tas etnik, batik..saya awalnya tujuannya adalah untuk bisa memberikan akses orang produk bagus dengan harga murah dan terjangkau. Sehingga saya ambil margin sangat tipis namun banyak yang beli.. kini dengan aneka pajak dan fee dari platform dan pemerintah. Itu tidak mungkin lagi. Sehingga tujuan saya sudah tidak tercapai.
Saya punya skill public speaking yang mantab..tapi saya tidak pernah tampil untuk minta charge. Saya melihat banyak orang tidak kompeten di luar saya dan yang ngajarin palsu. Saya terbiasa tidak menilai dari uang. Saya dikelilingi orang yang baik dan mencintai saya.
Namun kok seolah dunia modern ini dipaksa menjadi money focus..saya harus cari cara produksi dan tidak tergoda untuk konsumsi kan.
Seharusnya saya bikin kursus dan charge orang dengan biaya tinggi.. seharusnya saya seperti orang lain.. tapi tidak.. itulah saya merasa tidak fit in dengan sistem " fake 🤥" dunia ini yang mempush kita menjadi " not good "
Jawaban analisa menurut AI, ini bukan kelemahan karakter kamu. Ini kelebihan yang belum diberi batas dan model bisnis yang tepat.
Yang kamu ceritakan justru menunjukkan pola yang konsisten selama bertahun-tahun: kamu lebih mendapatkan kepuasan dari menciptakan nilai dan membuat orang lain mendapatkan manfaat daripada sekadar mendapatkan uang dari nilai tersebut.
Dan menurutku, masalahnya bukan kamu “tidak cocok dengan dunia modern”. Masalahnya adalah cara dunia modern menghargai sesuatu tidak selalu sama dengan cara kamu memaknai sesuatu.
Ada dua sisi dari sifatmu
Kelebihannya:
Kamu genuinely suka memberi.
Kamu tidak otomatis mengukur kualitas seseorang dari uang.
Kamu punya kemampuan membuat sesuatu dari nol: metode, produk, presentasi, bisnis, konsep.
Kamu punya dorongan untuk membuat sesuatu accessible, bukan eksklusif.
Kamu bisa melihat kebutuhan orang dan berpikir, “Bagaimana supaya mereka bisa mendapat ini dengan harga yang masuk akal?”
Kamu punya kemampuan yang sebenarnya bisa dijual mahal, tetapi motivasi utamamu bukan uang.
Itu kualitas yang tidak bisa dibeli dengan kursus mahal.
Tapi ada sisi lainnya.
Kelemahannya bukan “terlalu baik”.
Kelemahannya adalah kamu berpotensi tidak memberi harga pada value yang kamu ciptakan sendiri.
Contohnya sangat jelas dari cerita asisten dosenmu.
Kamu membuat metode → metode itu memberi nilai → tetapi kompensasinya tetap sama.
Di toko:
Kamu punya produk bagus → kamu sengaja margin tipis → konsumen mendapatkan harga murah → kamu merasa tujuanmu tercapai.
Public speaking:
Kamu punya skill → kamu bisa mengajar → tetapi kamu tidak nyaman mengatakan, “Untuk ini tarif saya sekian.”
Jadi ada sebuah pola:
“Saya senang ketika orang mendapatkan manfaat dari sesuatu yang saya buat.”
Itu bagus.
Tetapi jangan sampai berubah menjadi:
“Karena saya senang memberi manfaat, maka orang tidak perlu membayar saya.”
Itu yang akhirnya membuat orang yang punya value justru kelelahan dan stuck.
Dan saya kira kamu tidak perlu berubah menjadi “orang yang money-focused”.
Ini bagian yang menurut saya penting.
Kamu tidak harus menjadi orang yang menjual kursus Rp10 juta hanya karena pasar mengatakan itu lebih profitable.
Kamu juga tidak perlu menjadi guru palsu yang membuat klaim bombastis, memasang harga tinggi, lalu menjual ilusi.
Tetapi kamu perlu belajar satu konsep:
Charging ≠ exploiting.
Meminta bayaran bukan berarti memanfaatkan orang.
Misalnya:
“Saya mengajar public speaking karena saya punya pengalaman dan metode. Untuk kelas ini saya mengenakan biaya Rp500.000.”
Itu bukan berarti kamu menjadi materialistis.
Kamu hanya mengatakan:
“Waktu, pengalaman, kemampuan, dan energi saya memiliki nilai.”
Dan justru kalau kamu ingin terus memberi, kamu membutuhkan mesin ekonomi yang sehat supaya bisa terus memberi.
Saya malah melihat model yang lebih cocok untukmu
Bukan:
Gratis → gratis → gratis → akhirnya capek.
Dan bukan pula:
Semua harus mahal.
Tetapi:
Paid value → funded generosity.
Contohnya:
Kelas public speaking premium
→ sebagian orang membayar harga normal/premium
→ kamu punya income
→ kamu bisa membuat satu sesi gratis untuk mahasiswa / komunitas / orang yang tidak mampu.
Atau:
Produk dengan margin sehat
→ kamu tidak lagi menjual hampir tanpa margin
→ bisnis tetap hidup
→ kamu bisa sesekali membuat promo atau produk khusus dengan harga terjangkau.
Jadi kamu tidak membuang sifat pemberimu.
Kamu hanya membuat sifat itu financially sustainable.
Dan ada satu kalimatmu yang menurut saya sangat penting:
“Saya harus cari cara produksi dan tidak tergoda untuk konsumsi.”
YES.
Saya kira itu justru inti fase hidupmu sekarang.
Bukan berarti kamu harus memproduksi barang sebanyak-banyaknya.
Produce more value. Consume less noise.
Karena sekarang kamu hidup di era yang sangat agresif mendorong orang untuk consume:
lihat iklan → beli
lihat influencer → beli
lihat restoran → makan
lihat promo → checkout
lihat kursus → beli
lihat tren → ikut
Sementara orang yang punya kemampuan seperti kamu justru perlu berada di sisi lain:
create → teach → solve → build → publish → sell.
Bukan terus-menerus menjadi konsumen dari ekonomi orang lain.
Dan menurut saya, kamu tidak perlu membuktikan bahwa kamu “lebih pintar” daripada orang yang menjual kursus mahal.
Justru gunakan kemampuanmu untuk membuat sesuatu yang benar-benar punya isi.
Kalau kamu punya public speaking yang kuat, misalnya, jangan berpikir:
“Seharusnya aku jual kursus mahal.”
Berpikir:
“Apa transformasi yang bisa saya berikan kepada seseorang dalam 4 minggu?”
Itu pertanyaan bisnis yang jauh lebih sehat.
Karena orang tidak sebenarnya membeli kepintaranmu.
Mereka membeli perubahan yang terjadi pada diri mereka setelah menggunakan kepintaranmu.
Jadi apakah kamu “tidak fit in” dengan sistem?
Mungkin sedikit.
Tapi saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang buruk.
Kamu tampaknya memang bukan tipe orang yang secara alami berpikir:
“Bagaimana saya bisa mengambil uang sebanyak mungkin dari orang?”
Kamu lebih seperti:
“Bagaimana saya bisa membuat sesuatu yang bagus dan berguna?”
Itu adalah creator mindset, bukan consumer mindset.
Yang perlu kamu tambahkan sekarang adalah commercial mindset.
Bukan mengganti hati kamu.
Menambahkan satu kemampuan baru.
Hati tetap generous.
Otak tetap kritis.
Karya tetap genuine.
Tapi value diberi harga.
Dan saya justru akan sangat hati-hati dengan kata “seharusnya saya seperti orang lain.”
Tidak.
Jangan menjadi orang lain.
Kamu hanya perlu belajar bagaimana orang seperti kamu bisa menghasilkan uang tanpa harus menjadi orang yang bukan kamu.
Itu jauh lebih menarik.
Karena mungkin problemmu selama 16+ tahun bukan bahwa kamu tidak bisa menghasilkan uang.
Mungkin problemnya adalah kamu selama ini terlalu sering menciptakan value untuk orang lain, tetapi belum membangun sistem yang membuat value itu kembali kepadamu.
Saya tidak akan menyarankan kamu tiba-tiba menjadi “salesperson” yang agresif atau membuat kursus mahal hanya karena sedang tren. Strateginya harus cocok dengan sifatmu: suka memberi, punya banyak skill, kreatif, tetapi sekarang perlu mengubah skill menjadi mesin pemasukan yang sehat.
Saya akan buat strateginya dengan prinsip:
Jangan mengubah siapa kamu. Ubah cara value kamu dihargai.
STRATEGI 2026–2027: FROM “GIVER” TO “VALUE CREATOR”
1. Berhenti menjual “skill”; mulai menjual hasil
Kamu punya terlalu banyak kemampuan: public speaking, marketing, e-commerce, product, teknologi, storytelling, photography, travel content, networking, leadership.
Kalau semuanya dijual sekaligus, orang malah bingung.
Pilih 1 skill utama sebagai mesin uang.
Menurut saya yang paling kuat untukmu:
🎤 PUBLIC SPEAKING + PERSONAL PRESENTATION
Bukan sekadar:
“Saya mengajarkan public speaking.”
Tetapi:
“Saya membantu orang yang sebenarnya pintar tetapi tidak bisa menyampaikan dirinya dengan kuat.”
Ini sangat cocok dengan pengalamanmu.
Kamu tidak perlu menjadi “motivator”.
Kamu mengajarkan skill nyata yang memang kamu gunakan.
2. Buat 3 tingkat produk
Ini penting supaya kamu tidak merasa bersalah ketika charging.
LEVEL 1 — FREE
Tetap memberi.
Tetapi gratisnya terstruktur, bukan memberikan seluruh energimu kepada semua orang.
Contoh:
TikTok/Reels
Instagram
artikel
tips public speaking
mini tutorial
live session sesekali
downloadable tips
Tujuannya:
FREE = membangun trust.
Bukan:
FREE = pekerjaan gratis.
LEVEL 2 — AFFORDABLE
Ini yang menurut saya sangat cocok dengan kepribadianmu.
Misalnya:
Mini Class Public Speaking
Rp99k–299k.
Materinya bisa sangat praktis:
bagaimana membuka presentasi
bagaimana tidak terdengar membaca
body language
suara
storytelling
menghadapi audience
presentasi bisnis
Harga ini membuat kamu tetap merasa:
“Saya masih memberikan akses.”
Tetapi orang juga mulai belajar bahwa waktu dan keahlianmu punya nilai.
LEVEL 3 — PREMIUM
Nah, ini bukan untuk semua orang.
Misalnya:
1-on-1 Public Speaking Coaching
Rp750 ribu–Rp2 juta/session sebagai titik awal yang bisa kamu sesuaikan.
Atau paket:
4 sessions → Rp3–6 juta
Untuk orang yang benar-benar ingin transformasi.
Misalnya:
entrepreneur
manager
professional
calon speaker
business owner
leader organisasi
seseorang yang akan melakukan presentasi penting
Di sini kamu tidak menjual satu jam waktumu.
Kamu menjual:
confidence + preparation + transformation.
3. Jangan membunuh sifat “suka memberi”
Ini bagian yang menurut saya justru akan membuatmu nyaman dengan charging.
Buat aturan:
70% paid / 20% affordable / 10% free
Misalnya kamu mendapatkan 10 klien.
7 membayar harga normal.
2 mendapatkan harga khusus.
1 kamu berikan gratis.
Dengan demikian:
kamu tetap menjadi Brigitta yang suka memberi, tetapi bukan Brigitta yang selalu bekerja gratis.
Dan lebih bagus lagi:
jadikan gratis sebagai keputusanmu, bukan tuntutan orang lain.
4. Pisahkan “generosity” dan “business”
Ini mungkin perubahan mental terbesar untukmu.
Kalau seseorang berkata:
“Mbak, ajarin dong.”
Jangan otomatis mengajar satu jam.
Jawab dalam pikiranmu:
Apakah ini friendship? Charity? Content? Business?
Empat hal itu berbeda.
FRIENDSHIP
→ boleh gratis.
CHARITY
→ kamu sengaja memilih memberi.
CONTENT
→ kamu memberikan sedikit value untuk publik.
BUSINESS
→ harus ada exchange.
Ini akan menghilangkan banyak rasa bersalahmu.
5. Untuk Palastri Shop: jangan lagi berperang di arena harga
Ini menurut saya penting sekali.
Kamu sudah mengalami:
produk bagus + margin tipis + marketplace fee tinggi = model semakin tidak sehat.
Jangan mencoba mengalahkan penjual lain dengan:
“Saya harus lebih murah.”
Tidak.
Kamu harus bergerak ke:
“Saya punya taste dan kurasi.”
Palastri jangan diposisikan sebagai:
toko yang menjual tas/batik murah.
Tetapi:
curated Indonesian products
Kamu menjual taste.
Orang membeli karena:
“Kalau Brigitta yang pilih, biasanya bagus.”
Itu jauh lebih sulit ditiru marketplace seller.
6. Gunakan content sebagai mesin utama
Saya justru ingin kamu lebih banyak memproduksi content daripada membeli sesuatu untuk dijual.
Karena content adalah salah satu aset yang bisa kamu buat dengan skillmu.
Misalnya 4 pilar:
🎤 SPEAKING
Tips public speaking.
💼 BUSINESS
Pengalaman 16+ tahun menjalankan bisnis.
🧠 SMART WOMAN / LIFE
Insight tentang bekerja, networking, leadership, failure.
✈️ TRAVEL / CULTURE
Travel + photography + Indonesian culture.
Tidak perlu semuanya dijual.
Sebagian hanya untuk membangun authority.
7. Buat “Brigitta Method”
Ini menurut saya sangat penting.
Kamu pernah membuat metode ketika menjadi asisten dosen.
Sekarang lakukan lagi.
Jangan menjual:
“Public Speaking Course.”
Buat intellectual property milikmu sendiri.
Misalnya:
BRIGITTA SPEAK™
atau nama yang lebih elegan.
Kemudian buat framework sendiri:
S — Structure
P — Presence
E — Expression
A — Audience
K — Knowledge
Misalnya.
Dengan begitu kamu tidak lagi menjual:
“Saya pintar public speaking.”
Tetapi:
“Saya punya framework.”
Itu membuatmu berbeda dari orang yang sekadar mengatakan dirinya “public speaking coach”.
8. Jangan langsung membuat kursus besar
Ini jebakan.
Jangan menghabiskan:
3 bulan membuat video
membeli equipment
membuat website
membuat 50 modul
kemudian berharap orang membeli.
Jual dulu. Baru produksi.
Buat:
Pilot Class — 10 orang.
Misalnya:
“Public Speaking Without Pretending”
2–3 jam.
10 orang × Rp299k = Rp2,99 juta.
Kalau berhasil:
buat batch kedua.
Naikkan harga.
Kemudian buat versi premium.
Market yang menentukan value, bukan ego kita.
9. Kamu perlu belajar satu skill yang selama ini mungkin paling tidak nyaman:
ASKING FOR MONEY.
Bukan meminta-minta.
Asking for money = allowing an exchange.
Kalimat mental yang saya ingin kamu ganti:
❌ “Aku nggak enak charge.”
menjadi:
✅ “Orang bebas memilih apakah value ini layak mereka bayar.”
Kamu menawarkan.
Mereka memilih.
Selesai.
Tidak ada yang jahat.
10. Buat satu sumber pemasukan yang benar-benar milikmu
Saya tidak ingin kamu bergantung pada:
TikTok Shop
Tokopedia
Instagram
marketplace
algoritma
iklan.
Platform boleh menjadi distribution channel.
Tetapi jangan menjadi pemilik hubungan dengan customer.
Bangun:
audience → WhatsApp/email/community → product → repeat customer.
Jadi kalau suatu platform menaikkan fee besok:
bisnismu tidak ikut mati.
11. Target 90 hari
Saya akan membuatnya sangat sederhana.
BULAN 1 — POSITIONING
Tentukan satu expertise utama.
Buat nama/framework.
Buat 10 konten public speaking.
Buat 3 konten tentang pengalaman bisnis.
Mulai mengumpulkan audience yang tertarik.
Jangan membuat kursus besar.
BULAN 2 — VALIDATION
Luncurkan:
1 pilot class.
Target:
10 peserta.
Dari peserta tersebut cari tahu:
apa masalah mereka?
apa yang mereka mau?
apa yang membuat mereka mau membayar?
bagian mana yang paling membantu?
BULAN 3 — MONETIZATION
Buat tiga produk:
FREE
Content.
ENTRY
Mini class.
PREMIUM
1-on-1 / corporate training.
Kemudian mulai menawarkan secara konsisten.
Dan saya ingin kamu punya satu aturan baru.
Never give away something that you secretly resent giving away.
Kalau kamu memberi dengan ikhlas:
FREE. ❤️
Kalau sebenarnya kamu merasa:
“Saya sudah menghabiskan 3 jam untuk ini dan kok orang menganggap gratis?”
Berarti:
CHARGE.
Karena memberi sambil diam-diam merasa dimanfaatkan akhirnya akan membuat orang baik menjadi pahit.
Dan mungkin ini perubahan terbesar untukmu:
Kamu tidak perlu menjadi money-focused.
Jadilah:
VALUE-FOCUSED.
Uang adalah alat ukur dan bahan bakar, bukan identitasmu.
Kamu boleh tetap menjadi orang yang murah hati.
Tetapi mulai sekarang:
Jangan murah terhadap value dirimu sendiri.
Karena kalau kamu terus memberikan semuanya gratis, suatu saat kamu tidak punya sumber daya untuk memberikan apa-apa lagi.
Sedangkan kalau kamu membangun bisnis yang sehat, kamu bisa mengatakan:
“Yang mampu bayar, bayar. Yang tidak mampu, saya bantu.”
Dan itu menurut saya jauh lebih sesuai dengan dirimu daripada memaksa dirimu menjadi orang yang setiap keputusan hidupnya hanya:
“Mana yang paling menghasilkan uang?”
Yang kamu butuhkan bukan menjadi lebih “fake”.
Kamu butuh sistem yang membuat sifat genuine-mu bisa bertahan secara finansial.
cari orang yang sudah punya audience
Ini yang menurut saya sangat cocok untukmu.
Daripada kamu mencari 100 peserta sendiri, cari:
5 orang yang sudah punya audience.
Contoh:
- komunitas entrepreneur
- business coach
- coworking space
- kampus
- event organizer
- perusahaan training
- komunitas profesional
- organisasi mahasiswa
Kamu datang sebagai expert/trainer.
Mereka punya audience.
Kamu punya expertise.
Win-win.
ada satu pasar yang menurut saya sangat menarik untukmu:
BUSINESS OWNER YANG PINTAR TAPI TIDAK BISA “MENJUAL DIRINYA”
Ini bukan hanya public speaking.
Ini gabungan pengalamanmu:
public speaking + business + marketing + presentation.
Misalnya:
“Saya membantu business owner menjelaskan bisnisnya dengan jelas sehingga orang mengerti kenapa mereka harus membeli.”
Nah.
Ini sudah bukan kursus public speaking biasa.
Ini punya nilai bisnis.
Seorang pemilik bisnis bisa membayar jauh lebih mahal untuk:
mampu menjelaskan dan menjual bisnisnya
daripada sekadar:
“belajar berbicara di depan umum.”
Jadi siapa yang saya ingin kamu cari?
Bukan:
“Siapa saja yang mau belajar?”
Tetapi buat daftar 30 orang:
🔥 10 Business Owners
Orang yang punya bisnis tetapi perlu pitching/presentation.
💼 10 Professionals
Orang yang harus presentasi atau memimpin meeting.
🎤 10 Potential Speakers
Orang yang ingin menjadi pembicara/trainer/content creator.
Lalu lihat siapa yang sedang punya kebutuhan nyata sekarang.
Dan jangan mulai dengan harga Rp3 juta.
Saya malah ingin kamu melakukan eksperimen.
Cari 10 orang pertama.
Tawarkan pilot program kecil.
Misalnya:
90-minute private coaching.
Harga founding:
Rp500k–Rp750k.
Bukan karena value kamu cuma segitu.
Tetapi karena kamu sedang mengumpulkan data.
Setelah 10 orang:
- apa masalah mereka?
- apa yang mereka suka?
- hasil apa yang mereka dapat?
- apa testimonialnya?
- apakah mereka mau repeat?
- apakah mereka mau mereferensikan?
Kemudian harga naik.
Dan saya akan kasih kamu satu prinsip yang mungkin sangat penting:
Jangan mencari orang yang mau membayar.
Cari orang yang sedang kehilangan sesuatu karena tidak memiliki skill yang kamu punya.
Itulah calon customer.
Orang tidak akan membayar karena kamu pintar.
Mereka membayar karena:
“Kalau saya bisa melakukan ini dengan lebih baik, hidup/bisnis/karier saya akan menjadi lebih baik.”
Dan dari semua skill yang kamu punya, menurut saya public speaking + business communication adalah pintu paling cepat untuk menguji ini.
Kamu bahkan tidak perlu membuat website dulu, tidak perlu membuat kursus dulu, tidak perlu pasang iklan dulu.
Betul. Tapi saya akan sedikit mengubah istilahnya: bukan sekadar “cari market”, melainkan masuk ke komunitas yang memiliki masalah yang bisa kamu selesaikan, lalu dengarkan dulu.
Untuk kondisi kamu sekarang, jangan langsung bikin kursus, website, logo, iklan, atau produk besar. Itu fase produksi setelah kita tahu siapa yang mau membeli.
Tahapanmu sekarang:
1. COMMUNITY → masuk ke tempat orang berkumpul
Cari komunitas yang relevan dengan skill kamu:
entrepreneur / business owner
UMKM
profesional
perempuan pengusaha
organisasi/komunitas leadership
komunitas public speaking
kampus/alumni
komunitas sosial
komunitas yang membutuhkan edukasi
Kamu sebenarnya sudah punya modal besar di sini karena pengalaman networking dan organisasi.
2. OBSERVE → dengarkan masalah
Jangan masuk sambil berpikir:
“Saya mau jual public speaking.”
Masuk sambil mencari:
“Apa masalah yang mereka punya?”
Misalnya ternyata banyak business owner berkata:
“Saya punya produk bagus tapi nggak bisa presentasi.”
Nah. Itu market.
Atau:
“Saya takut bicara di depan orang.”
Market.
“Saya nggak bisa menjelaskan bisnis saya.”
Market yang bahkan lebih bernilai.
3. TEST → tawarkan bantuan kecil
Jangan langsung kursus Rp5 juta.
Coba:
“Saya sedang membuat small session untuk membantu business owner menyampaikan bisnisnya dengan lebih jelas. Saya mau ambil beberapa orang untuk pilot.”
Lihat respons.
Ada yang mau?
→ lanjut.
Tidak ada yang mau?
→ jangan tersinggung. Berarti positioning/masalah/harganya perlu diperbaiki.
4. PAID → cari bukti bahwa orang mau membayar
Ini titik yang paling penting.
Bukan jumlah followers.
Bukan likes.
Bukan orang yang berkata:
“Wah bagus banget, Mbak!”
Tetapi:
“Berapa? Saya mau ikut.”
Itulah validasi bisnis yang sebenarnya.
5. SCALE → baru diperbesar
Setelah kamu punya 5–10 orang yang membayar dan tahu apa yang mereka butuhkan:
baru buat produk yang lebih serius.
Kemudian:
Community
↓
Problem
↓
Pilot
↓
Payment
↓
Testimonial
↓
Product
↓
Scale
Dan untukmu saya akan buat satu aturan:
30 hari ke depan = jangan mengejar uang dulu. Kejar informasi dari market.
Tetapi jangan juga memberi konsultasi gratis tanpa batas.
Target sederhananya:
Temui 30 orang.
Bicara dengan 10 orang secara lebih dalam.
Temukan 1 masalah yang muncul berulang kali.
Tawarkan solusi kecil kepada 5 orang.
Dapatkan minimal 1–3 orang yang benar-benar membayar.
Kalau berhasil, kamu sudah menemukan awal market-mu.
Dan menurut saya, ini jauh lebih cocok untukmu daripada duduk sendirian selama 3 bulan membuat “kursus premium” lalu berharap orang datang.
Sekarang waktunya keluar → bertemu orang → mendengar → menemukan masalah → baru produksi.
Itu juga menjawab kegelisahanmu sebelumnya:
Produce more, consume less.
Produksi kamu sekarang bukan produk dulu.
Produksi koneksi, percakapan, insight, dan value.
Dari sana baru lahir produk yang memang dibutuhkan orang.
MONEY WON'T MATTER IN 2036 28 Juli 2026
If we can produce more than people need. We don't need money for buying
https://youtube.com/shorts/8YEdm-ZTgT4?si=zdNX2as5_rzYjund
He said.. if you can't make money while you're sleeping 😴 you'll work for money until the day you die 😲
25 percent==> for growth ==> to increase the value
Learn the skill that makes your money hands down the fastest ⚡( anything that you can use to bring income)
Dropship stuff + digital product
Alternative investment ( Bitcoin, NFT, wine, gold, Ethereum )
15 percent ==> for something stable ( kebutuhan bulanan termasuk makanan listrik tempat tinggal transportasi dikalikan 5 ). Misal sebulan butuh 1,5 juta, ya stability nya di angka 7,5 jeti cukup :: uang jaga jaga
50 percent daily funds / untuk hidup
10 percent uang reward ==> kalau saya pakai untuk help / return/ put back into circulation to help others yang paling membutuhkan
https://youtu.be/QThz1B8SHmc?si=wTJMATRdw7KboB0I
What hold value ?
📖 Rome : silver and land
📖 Florence : merchants with goods and real things
📖 After black death ☠️ 💀: people with liquidity and skills
📖 Argentina: people who own hard assets or have access to dollars 💵 😔
Real value : things that you can touch, use with hands.. not something that people can hack and take with keyboard 🎹 those are :
🍎 Gold 🥇 🪙
🍎 Silver 🥈 🪙
🍎 Land
🍎 Food
🍎 Skills
🍎 Relationships
🍎 Mobility
Start building 🏢 🏫 real value
The fishing is best where the fewest go 🎣 🦦 9 Desember 2025
🌟 Metaphorical Meaning (the real power of the quote)
This sentence is actually about life, opportunity, career, and courage:
1. The rare path brings the richest rewards
When you go where most people are afraid to go —
mentally, spiritually, or even geographically —
that’s where you discover something valuable that others miss.
2. Crowded paths give predictable results
When everyone follows the same route, the chance of standing out becomes small.
True growth happens in spaces that are quiet, difficult, or unknown.
3. Solitude creates mastery
A person who dares to explore “empty waters” becomes the expert.
The master.
The one who leads instead of follows.
4. It encourages you to trust your intuition
Your intuition often points you to places others don’t see.
That’s where your “fish” — your blessings, breakthroughs, and luck — are waiting.
💫
Your “best catch” in life is in places that others around you don’t dare to go —
exactly like how you have visions to go to the new places ,new industries, and new spiritual paths.
CHARGE
Don't be afraid to charge what you're worth. $125 per partnership ( 2022 ) ==> artikel dari majalah online
GEORGE SOROS
To be in the game ⭐ 🎯, you have to endure the pain 💪 🎯
JACK MA
Don't worry about money 💰 🤑 Money Follows People. People should follow their dreams
RICH 🤑
Rich in my era : ability to take others's money 🤑 💰
You get rich 🤑 💰 by selling things 😁 😉 for profit 😉 😄
SUARA, MONEY ON MY MIND ( quotes by Brigitta stellani Sukamto)
💰 Money will not hold the same value as before.. doesn't care about how much you earn but about decisions
💰 Money is like an Army 🪖 to wage a war, it's better only to send small armies. Same about how you spend. You spend for food, for anything. It means you send your money ( armies) to go to wars. Make sure the war is beneficial for you.
SCALE ⚖️ UP
You yourself have 100 minutes per day. By having 70 people that copy your way and your goal, you have 70 x 100 minutes = 7000 minutes + 100 minutes of yours.
https://youtu.be/gLHfm0rX4lU?si=lP4CIgFz4KB6zPxm
MONEY MANAGEMENT:
how much you should pay yourself as a business owner:
https://youtube.com/shorts/h724DnfveAE?si=bidjMcooFK1TH4lt
MONEY QUOTIENT:
Leveraging assets: investing wisely and generate income even if they're not working
Do yourself a favor, GET RICH 🤑 💰 Life is easier with money , not 🚭 🚫 time
Right time to invest : saat yang lain pada hold karena ketakutan adalah saat the rich deploying their money to invest. Saat kondisi membaik, mereka jadi yang paling jaya:)
Debt is used to create more money 💰= good ( like buying real estate or business ventures)
Do production : form of production = bikin video, creating digital products, creating courses, developing app, etc ====> produce value in a large scale ⚖️
https://youtu.be/961vZxJkp5I?si=emujhNVxQqvZ-CZm
before spending money, ask this question
"Will this purchase give me more time, more skills, better health, stronger relationships, or increase my future earning potential?"
If the answer is "yes," it's often a higher-quality purchase than one that provides only a brief moment of satisfaction.

