Customers only buy improvement..what can happen in the future. Instead of talking about the safety of the plan..they care about the trip to an island 🏝️. They care about what can improve their lives..
Iya. Intinya: ACTION.
Tapi bukan action asal-asalan — lebih tepatnya:
Action → feedback → adjust → repeat
Bukan:
mikir sempurna → nunggu yakin → baru jalan
Kalau diringkas super simpel:
Jalan dulu, walau belum rapi
Salah = data, bukan drama
Belajar sambil jalan, bukan sebelum jalan
orang yang mulai (walau salah)
akan selalu lebih dekat ke hasil
daripada orang yang hanya berpikir benar.
Bedanya orang jalan vs orang nunggu:
Nunggu: pengen aman → nggak ke mana-mana
Jalan: ambil risiko kecil → buka pintu besar
Tinggal satu hal: izinkan diri untuk mulai sebelum siap.
Kalau mau satu kalimat pegangan:
“Clarity comes from action, not thinking.”
Kamu tidak salah menangkap realitasnya. Ini memang perubahan zaman, bukan karena kamu “kurang usaha”.
Penjelasan jujur & strukturalnya begini:
1️⃣ Dulu vs Sekarang (kenapa terasa lebih mudah dulu)
Generasi lama:
Penduduk lebih sedikit
Kompetisi rendah
Teknologi belum masif → skill dasar saja sudah cukup
Loyalitas brand tinggi (orang jarang pindah pilihan)
Sekarang:
Populasi besar + urbanisasi
Semua orang bisa jualan online → pasar sangat jenuh (saturated)
Konsumen lebih kritis, banding harga & kualitas
Margin makin tipis karena perang harga
Jadi benar: bukan cuma perasaan, tapi data sosial-ekonomi.
2️⃣ Masalah utama zaman sekarang
Bukan “tidak ada uang”, tapi:
Uang berpindah lebih cepat
Winner takes more (yang beda/kuat branding ambil banyak)
Middle player tertekan
Makanya:
kerja keras ≠ otomatis kaya
pintar positioning > pintar kerja
3️⃣ Kenapa kamu terasa “kena” banget
Dari konteks hidupmu:
Kamu pernah jadi top seller → artinya kompeten
Tapi platform berubah, algoritma berubah, biaya naik
Sistem dropship & mass seller sudah tidak ramah pemain lama
Ini bukan kegagalan personal, tapi pergeseran sistem.
4️⃣ Cara realistis bertahan & naik di era saturated
Bukan tambah capek, tapi ubah sudut main:
A. Jangan main mass market
→ Itu medan perang paling berdarah
→ Pilih niche + cerita + nilai
Contoh relevan dengan kamu:
Batik bukan “baju”, tapi:
heritage
status
cerita budaya
limited & personal
B. Dari jual barang → jual makna
Orang kaya tidak beli murah, mereka beli:
identitas
cerita
kepercayaan
C. Naik kelas pelan tapi stabil
Kurangi produk, naikkan positioning
Dari “seller” → kurator / storyteller / brand owner
5️⃣ Kalimat penting (biar kamu tenang)
“Zaman ini tidak kejam, tapi selektif.”
Dan kamu punya modal penting:
taste
intuisi
pengalaman
visi global
Banyak orang punya energi, tapi tidak punya arah.
Kamu kebalikannya.
Tiga istilah ini sering dipakai dalam strategi bisnis dan inovasi:
1. Value Creating (Menciptakan Nilai)
➡️ Perusahaan menghadirkan sesuatu yang baru atau lebih baik untuk konsumen.
Contoh: Apple menciptakan iPhone → gabungan ponsel + internet + iPod.
2. Value Capturing (Menangkap Nilai)
➡️ Bagaimana perusahaan mengubah nilai yang diciptakan menjadi pendapatan/laba.
Contoh: Apple bukan hanya jual produk, tapi juga ekosistem App Store → recurring income.
3. Value Eroding (Nilai yang Terkikis)
➡️ Ketika nilai yang diciptakan hilang atau berkurang karena:
-
Kompetitor masuk dengan harga lebih murah.
-
Teknologi jadi usang.
-
Konsumen beralih ke tren baru.
Contoh: Nokia kehilangan pasar smartphone karena tidak ikut tren layar sentuh.
🔑 Intinya:
-
Menciptakan nilai = inovasi/solusi.
-
Menangkap nilai = strategi monetisasi.
-
Nilai terkikis = risiko kalau tidak beradaptasi.
BUSINESS ARCHITECTURE MINDSET
"Business architecture mindset" adalah cara berpikir strategis dan sistematis yang fokus pada **membangun, merancang, dan menyelaraskan struktur bisnis** agar mendukung visi jangka panjang perusahaan. Ini bukan cuma soal membuat struktur organisasi, tapi bagaimana semua elemen—proses, orang, teknologi, informasi, strategi—terkoneksi dan mendukung tujuan bersama.
Berikut poin-poin utama dari **mindset business architecture**:
---
### 1. **Holistic Thinking (Berpikir Menyeluruh)**
Melihat bisnis sebagai satu ekosistem yang saling terhubung, bukan bagian-bagian yang terpisah.
> *Contoh: Bukan hanya memperbaiki tim marketing, tapi melihat bagaimana marketing, sales, dan customer support membentuk satu alur pengalaman pelanggan.*
---
### 2. **Strategic Alignment**
Memastikan semua proyek, inisiatif, dan proses operasional selaras dengan strategi bisnis utama.
> *Misal: Jika strategi bisnis adalah ekspansi global, maka arsitektur bisnis akan mencakup kesiapan sistem logistik internasional, kebijakan, dan kemampuan digital.*
---
### 3. **Blueprint Thinking**
Menggunakan peta atau “blueprint” untuk menggambarkan hubungan antar bagian—misalnya:
- Capability map (kemampuan organisasi)
- Value streams (alur penciptaan nilai)
- Information map
- Org structure & business processes
---
### 4. **Customer-Centric**
Fokus pada penciptaan nilai bagi pelanggan, dan bagaimana struktur internal mendukung itu.
> *Bukan sekadar efisien, tapi bagaimana perusahaan memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan.*
---
### 5. **Adaptability & Change-Ready**
Membentuk struktur yang fleksibel agar bisa cepat beradaptasi dengan perubahan pasar, teknologi, atau regulasi.
---
### 6. **Cross-Functional Collaboration**
Business architect harus bisa menjembatani antar tim: IT, operasional, manajemen, dan bisnis agar semua bagian bicara bahasa yang sama dan bergerak searah.
---
Kalau kamu tertarik menerapkan mindset ini dalam bisnismu, bisa mulai dari:
- **Mendefinisikan core capabilities**
- **Membuat peta alur nilai (value streams)**
- **Melihat kesenjangan antara kondisi sekarang dan target**
- **Menghubungkan proyek dan teknologi dengan tujuan bisnis**
Kamu pengen pakai mindset ini untuk skala startup, UMKM, atau organisasi yang lebih besar? Aku bisa bantu bikin blueprint dasarnya.
WHY EXPENSIVE?
The **World Economic Forum (WEF) Annual Meeting in Davos** is expensive because it is an **exclusive, high-level gathering** that provides access to **powerful global leaders, top executives, and policymakers**. Here’s why the costs are so high:
### **1. Exclusive Membership & Networking**
- WEF is a **private organization**, and its events are designed for **elite decision-makers** in business, government, and academia.
- The high cost ensures that only **serious players**—like CEOs of Fortune 500 companies, heads of state, and leading academics—attend.
- The event offers **unmatched networking** opportunities with top global influencers.
### **2. High Event Costs & Logistics**
- Davos is a **small Swiss town**, and hosting thousands of VIPs requires **extensive security, accommodations, and logistical planning**.
- Security is tight, involving **Swiss police, private security firms, and even military support**.
- The event includes **hundreds of sessions, keynote speeches, and high-tech facilities** for discussions.
### **3. Brand & Prestige**
- Being part of WEF **signals status** and influence in global decision-making.
- Companies and leaders **pay to gain visibility** among the world's most powerful people.
### **4. Funding WEF’s Global Initiatives**
- WEF is a **non-profit** but runs multiple global initiatives in **climate change, digital transformation, economic development, and AI governance**.
- Membership fees help fund these programs.
It’s essentially a **pay-to-play** event where businesses and leaders invest in influence, networking, and shaping global policies.
FREE OR NO?
No, attending the **World Economic Forum (WEF) Annual Meeting in Davos** is not free. It is an **invite-only** event, primarily for **business leaders, politicians, academics, and influential figures**.
### **Cost Breakdown:**
1. **Membership Fees** – To attend, a company must usually be a **WEF member**, which costs anywhere from **$65,000 to $650,000 per year**, depending on the level of membership.
2. **Participation Fees** – Even if a company is a member, individuals still need to pay an additional fee to attend Davos, which can be around **$19,000 - $29,000 per person**.
3. **Travel & Accommodation** – Since Davos is expensive, attendees also pay high costs for hotels, transportation, and food.
### **Who Can Attend for Free?**
A few select groups may **attend without paying**:
- **Government Officials** (some are invited as speakers or participants).
- **Young Global Leaders** (a WEF program for emerging leaders).
- **Journalists & Media** (if accredited).
- **NGOs and Academics** (some may get invitations or scholarships).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar