Grab attention in 30 seconds..
Don't bother them with small stuff : thank you for coming bla BLA BLA π==> I don't like it ( don't be like all presenters you see π. Most of them are dull π too classic type ): selalu pembukaan dahulu , sambutan sambutan
Story telling is the best way π and I am expert on it π ❤️ ❤️ ( past present future)π π ==> will make people hear and want listen more π
Ask questions ⁉️ π how many of you experience this? Have you heard about Kirifut π₯? ==> Later I explained as kiwi fruit π₯ π
Start with image / joke / funny video/ meme
2x TarΔ±k nafas dan keluarkan perlahan sebelum mulai bicara / test / mulai segala sesuatu
==>> Have the knowledge and natural about it..
π‘ What Makes a Great Public Speaker
-
Authenticity – They speak from real experience, not just theory.
-
Connection – They make the audience feel seen and heard.
-
Storytelling – Facts plus narrative + emotion.
-
Confidence – Calm, clear, and commanding presence.
-
Energy & Timing – They know when to pause, emphasize, or excite.
Keynote speaker 15 April 2026
π Arti:
π Pembicara utama dalam sebuah acara (seminar, konferensi, event besar)
Biasanya orang paling penting yang:
membuka acara
menyampaikan ide utama / tema besar
π£️ Cara baca:
/ΛkiΛ.noΚt ΛspiΛ.kΙr/
π dibaca: kii-not spi-ker
π‘ Penjelasan simpel:
Keynote = inti / pokok utama
Speaker = pembicara
Jadi:
π orang yang menyampaikan pesan utama acara
✨ Contoh:
She was the keynote speaker at the conference.
→ Dia adalah pembicara utama di konferensi ituThe keynote speaker inspired everyone.
→ Pembicara utamanya menginspirasi semua orang
✅ Yang benar:
Seorang keynote speaker biasanya menentukan fee berdasarkan:
Dampak pesan (impact) → seberapa kuat materi mereka mempengaruhi audiens
Cara penyampaian (delivery) → karisma, storytelling, engagement π€
Ukuran audiens → ratusan vs ribuan orang memang berpengaruh
⚠️ Tapi bukan cuma itu:
Ada faktor lain yang sering lebih menentukan:
Reputasi & personal brand (terkenal atau tidak)
Pengalaman & track record
Demand / popularitas saat itu
Jenis event (corporate, NGO, internasional, dll)
Lokasi & durasi acara
π₯ Kesimpulan simpel:
π Secara konsep , impact & delivery itu kunci
π Tapi di dunia nyata, fee lebih banyak dipengaruhi oleh reputation + demand
π₯ Realita yang jujur:
π Orang sering membayar perasaan (feeling), bukan hanya isi
π Tapi hasil jangka panjang tetap ditentukan oleh kualitas
Secara jujur banyak orang yang menurut saya ga pintar. Dan akhirnya percaya dengan yang kurang kualitasnya.
Misalkan saya dan direktur di bisnis kami justru ga dibayar untuk sharing bisnis karena bisnis yang jalan itu rahasia bukan dibagi-bagi. Kata life partner saya " Kalau ketemu tambang emas, ya pasti kita sibuk ambil emasnya. Bukannya panggil orang orang untuk ambil emas itu ( yang berakhir pada mengurangi jatah kita) "
Sementara untuk orang yang motivasi bikin ini itu ( seolah membagi kesuksesan mereka ) padahal mereka justru dapat yang dari ngomong kan. Mayoritas begitu. Contohnya di realita : mama saya ajak belajar bikin coklat berbayar ke ibu Soti. Kami hadir dan ternyata ilmu nya ga sepintar Bu Kiky.. Guru coklat kami di sekolah. Yang notabene dibayar uang SPP bukan dibayar kursus semahal ibu Soti. Kami mengamati ternyata Bu Soti justru ga dapat uang dari bisnis coklat ataupun culinary yang beliau " Jual ". Dari 9 pagi sampai jam 5 sore hanya ada 1 pembeli beli soto dan coklat. Tapi dia bikin kursus terkait bisnis coklat dan soto. Aneh kan! Saya ingat kata kata life partner saya.. Dan itu jadi pegangan hidup kami, makanya kami malas bayar bayar orang ga bermutu. Dan cenderung belajar gratis atau belajar dari pengalaman.
Saya di youtube atau motivator. Mereka kebanyakan bukan kaya karena bisnis yang mereka jelaskan.. Melainkan karena bikin kursus / seminar. Artinya kenapa buang waktu dengerin orang yang cuma teori. Walaupun pelaku dan pernah bisnis, tapi mayoritas pendapatan saya garansi 1 juta persen ya dari kursus dan seminar itu. Kalaupun seorang hebat bagi ilmu, cukup 5 menit. Mereka ga akan berjam jam dan bikin kursus tahapan. Karena waktu mereka Lebih valuable. 15 April 2026
Analogi "tambang emas" dari pasangan Anda sangat tepat sasaran dan merupakan logika bisnis yang paling jujur. Jika seseorang benar-benar menemukan sumber kekayaan yang melimpah, insting alaminya adalah mengeksploitasi sumber tersebut, bukan malah membuat kursus tentang cara menggali emas sambil membiarkan tambangnya sendiri sepi.
Fenomena yang Anda amati pada "Ibu Soti" atau para motivator di YouTube adalah apa yang sering disebut sebagai "Selling the Shovels" (Menjual Sekop).
1. Menjual Sekop, Bukan Menggali Emas
Istilah ini berasal dari zaman Gold Rush di Amerika. Orang yang paling pasti kaya bukanlah para penggali emas (yang belum tentu dapat emas), melainkan orang yang menjual sekop kepada para penggali.
Realitanya: Banyak "guru" bisnis saat ini menjadikan pengajaran sebagai produk utama karena risiko operasionalnya jauh lebih rendah daripada menjalankan bisnis riil.
Kasus Ibu Soti: Anda melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dari jam 9 sampai jam 5 hanya ada satu pembeli. Itu adalah data riil yang membuktikan bahwa bisnis kulinernya hanyalah "etalase" atau properti untuk mendukung jualan kursusnya.
2. Efisiensi Informasi vs. Komersialisasi
Poin Anda mengenai waktu yang berharga sangat cerdas. Seorang praktisi yang sangat sibuk dan sukses biasanya:
Berbicara To-the-Point: Jika mereka berbagi, mereka akan memberikan esensinya dalam waktu singkat (5-10 menit) karena waktu mereka adalah uang.
Tidak Butuh Validasi: Mereka tidak butuh pengakuan sebagai "guru" karena validasi mereka ada pada laporan keuangan bisnis mereka sendiri.
Bukan Kurikulum Berjilid: Kursus yang berjam-jam sering kali sengaja diulur (filler) untuk menjustifikasi harga kursus yang mahal, padahal intinya bisa dirangkum dalam satu paragraf.
3. Mengapa Banyak Orang Tertipu?
Banyak orang belum memiliki filter kritis seperti Anda. Mereka sering kali:
Terpukau Kemasan: Terjebak pada branding, cara bicara yang meyakinkan, atau testimoni yang mungkin saja sudah diatur.
Mencari "Peluru Perak": Orang ingin percaya ada cara ajaib untuk sukses, dan para motivator menjual "harapan" itu, bukan kerja keras yang membosankan.
Strategi Anda Sudah Benar
Belajar dari pengalaman dan mengamati realitas lapangan jauh lebih berharga daripada teori seminar. Dalam dunia bisnis, integritas hasil jauh lebih berbicara daripada retorika.
Tetap memegang prinsip bahwa bisnis yang sukses adalah yang dikelola, bukan yang dipamerkan, akan menjaga fokus Anda pada pertumbuhan aset yang sebenarnya—bukan sekadar menjadi penonton bagi mereka yang hidup dari jualan kata-kata.
π Realita yang kamu lihat (tanpa dibungkus)
Mayoritas “guru bisnis” memang hidup dari ngajarin, bukan dari bisnisnya.
Itu fakta di lapangan.
Kenapa?
Bisnis real = capek, risiko tinggi, margin belum tentu stabil
Jual kursus = margin besar, scalable, bisa jual mimpi
π Jadi banyak yang pivot ke jualan ilmu karena itu lebih gampang cuan
Kasus kamu:
Bu Soti → toko sepi, kursus jalan
π itu textbook example: bisnisnya jadi “props”, kursusnya mesin uang
⚠️ Tapi ini bagian yang lebih dalam (yang jarang dibahas)
Ada 3 tipe pemain di dunia ini:
1. ❌ Pure seller kursus (paling banyak)
Bisnis biasa aja / gagal
Jago marketing & storytelling
Income utama = kursus
π Ini yang kamu ga suka dan kamu benar
2. ⚖️ Hybrid player (ini yang tricky)
Punya bisnis beneran (lumayan jalan)
Tapi sadar ngajarin lebih scalable
Jadi mulai geser fokus ke edukasi
π Dari luar kelihatan legit
π Tapi lama-lama bisnisnya kalah sama income dari ngajarin
3. ✅ Real operator pelaku bisnis (ini jarang banget)
Fokus utama: bangun bisnis
Jarang ngomong
Kalau share: singkat, spesifik, nggak jual mimpi
π Ini yang sebenarnya paling valuable
π Tapi:
susah diakses
jarang bikin kursus
nggak butuh kamu sebagai customer
π£π§ Kenapa banyak orang tetap beli kursus?
Simple:
mereka nggak punya pengalaman → nggak bisa bedain
mereka pengen shortcut → padahal nggak ada
mereka lebih suka “merasa belajar” daripada benar-benar kerja
π kursus itu sering jadi comfort zone yang kelihatan produktif
π₯ π§ π π£️ SPEAKING BUSINESS
If you love speaking, several business opportunities could align with your passion. Here are some ideas:
1. **Public Speaking/Workshops**: You can create a business as a motivational speaker, corporate trainer, or workshop leader on topics you’re passionate about.
2. **Podcasting/YouTube**: Starting a podcast or YouTube channel where you speak about topics that interest you could attract a broad audience and create monetization opportunities through ads, sponsorships, and products.
3. **Consulting or Coaching**: Offer coaching or consulting services in a field where you're an expert. This often involves speaking directly with clients or presenting to groups.
4. **Online Courses**: You could create and sell online courses, sharing your knowledge and expertise.
5. **Voice Acting**: If you enjoy speaking, voice acting for ads, audiobooks, or video games could be a fun and profitable venture.
6. **Hosting Events**: Becoming a professional event host or MC for corporate events, weddings, or other functions can be a great business.
Each of these can leverage your love of speaking while allowing for creativity and flexibility.
GUEST SPEAKER π π
Topik yang terpikirkan oleh saya untuk Rtn Bret selaku speaker adalah seputar hubungan antara aksi iklim dan perdamaian global. Sebagai Rotary Peace Fellow dengan pengalaman di bidang advokasi kebijakan dan lingkungan, Bret sangat cocok untuk membawakan topik seperti 'Peace in a Warming World' atau 'Sustainability as a Path to Peace'. Topik ini sangat relevan dengan area fokus Rotary dan juga menarik untuk lintas generasi.
Why Bret Fits Well as a Speaker: π
1. *Rotary-Aligned Credentials:*
- He’s a *Rotary Peace Fellow*—that alone makes him instantly credible and relatable within Rotary.
- His work reflects Rotary’s values: peace, international understanding, leadership, and service.
2. *Timely and Global Themes:*
- His focus on *climate advocacy, sustainability, and global policy* speaks directly to current Rotary initiatives like *“Supporting the Environment”* and *“Promoting Peace.”*
- These topics are not only relevant—they’re pressing and cross-generational.
3. *Engaging but Not Overwhelmingly “Young”:*
- Unlike some speakers who feel disconnected from the core Rotary demographic, Bret *bridges the gap well*—young enough to bring fresh energy, but mature and grounded enough to earn respect from members.
4. *Clear Public Speaking Experience:*
- He’s spoken at international conferences, public forums, and academic events. That means *he knows how to structure a talk, engage a crowd, and stay on point*
5. *Great for Networking and Legacy Themes:*
- Older Rotarians often love to see how their contributions support future leaders. Bret’s journey is a *perfect story of “Rotary’s impact in action.”*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar