Kamis, 04 September 2025

IMAGINARY FRIEND

 

Saat usia 3-5 tahun.  Saya sering menggambar orang sederhana. Kepala. Satu garis lurus badan. Tangan kiri kanan dan kaki kiri kanan..

Malam πŸŒƒ itu.. usia saya 4/5 tahun.. saya melihat di dinding ada bentuk seperti yang saya gambar.. bergerak gerak dan mengajak saya main di luar bersama. Saat itu sudah malam πŸŒƒ dan saya berada di pelukan mama ( " dikeloni"). Saya bilang ' ma, itu mereka ajak saya main di luar '. Mama saya melihat saya dengan pandangan kosong ( yang saat dewasa saya paham bahwa mama saya tidak melihat yang saya lihat).

Mama bilang " coba tanya ke papa ".

Papa saya yang sedang nonton bola teriak " sudah biarkan saja teman teman itu. Kamu tidur. Kalau ganggu kamu, nanti papa " pentung " ( pukul ).

Saja dealing dengan itu dan saya bersyukur papa dan mama saya ga anggap saya gila. 

Seingat saya, setelah papa saya meninggal, saya tidak pernah melihat imaginary friends lagi...

Ketika saya beranjak besar, saya paham bahwa itu adalah imaginary friends dan saya telah mengalaminya.... 

Saya dibilang sangat Amerika karena kebanyakan yang punya imaginary friends ada di cerita cerita Amerika..



😊 


πŸ”Ή Dari sisi psikologis

  1. Umur 3–7 tahun = masa imajinasi tinggi
    Anak-anak di usia ini memang sering menciptakan imaginary friends. Itu bisa berupa teman main, tokoh kartun yang “hidup”, atau bentuk sederhana (seperti gambar orang yang kamu buat). Otak anak sedang belajar memisahkan realita dan fantasi, jadi wajar sekali.

  2. Fungsi imaginary friends

    • Membantu anak mengatasi rasa takut atau kesepian.

    • Jadi sarana berlatih komunikasi sosial (anak belajar bagaimana bercakap, berbagi, bertengkar, berdamai).

    • Menjadi cara untuk menyalurkan kreativitas.

  3. Tidak menandakan gangguan mental
    Justru penelitian bilang banyak anak dengan imaginary friends punya empati, kecerdasan verbal, dan kreativitas tinggi.


πŸ”Ή Dari sisi spiritual / kultural

  1. Teman gaib dalam budaya
    Di Indonesia, cerita anak melihat “teman” yang orang dewasa tidak lihat sering dianggap makhluk halus atau roh. Itu bisa menakutkan, tapi juga bisa dipahami sebagai kepekaan anak yang lebih terbuka pada hal-hal non-fisik.

  2. Pengalamanmu
    Kamu melihat bentuk seperti gambar yang kamu buat sendiri. Itu khas sekali: dunia batinmu memproyeksikan imajinasi ke dunia luar. Bisa ditafsirkan dua hal:

    • Secara psikologis: imajinasi yang begitu kuat sampai terasa nyata.

    • Secara spiritual: kamu memang punya sensitivitas sejak kecil (intuisi/“indigo traits”) sehingga bisa menangkap energi atau visual di luar kebanyakan orang.

  3. Reaksi orang tua
    Ini penting banget. Orang tuamu tidak menakut-nakuti atau menyalahkan, tapi merespons dengan santai. Itu bikin kamu merasa aman, jadi pengalamanmu tersimpan positif, bukan trauma.


πŸ”Ή Setelah ayahmu meninggal kamu tidak melihat lagi

Ini bisa punya dua makna:

  • Psikologis: saat bertambah usia, fungsi imajinasi “teman” mulai hilang. Anak sudah lebih paham realitas.

  • Spiritual: ayahmu memberi perlindungan energi yang kuat. Setelah beliau pergi, channel itu ikut tertutup atau berubah.


πŸ”Ή Jadi, apa artinya buatmu sekarang?

  • Kamu bukan aneh atau gila—itu pengalaman umum anak-anak, hanya kamu bisa ingat detailnya dengan jelas.

  • Itu menunjukkan imajinasi, kreativitas, dan intuisi yang kuat sejak kecil.

  • Kamu punya pilihan untuk memaknai itu sebagai:

    • Bagian dari perkembangan psikologis (kamu anak kreatif dan sensitif).

    • Atau tanda bahwa kamu punya bakat intuisi/spiritual yang bisa diasah (misalnya lewat meditasi, journaling, atau seni).


πŸ‘‰ 


πŸ”Ή Kenapa di Amerika hal ini populer?

  1. Psikologi & penelitian lebih terbuka
    Di Amerika, fenomena imaginary friends sudah banyak diteliti oleh psikolog anak sejak 1940-an. Jadi orang tua tidak langsung menilai aneh atau mistis, tapi dianggap normal bagian perkembangan.

  2. Budaya cerita & film
    Banyak film, buku anak, atau serial kartun Amerika menampilkan imaginary friends (contoh: Drop Dead Fred, Inside Out ada “Bing Bong”). Itu membuat fenomena ini terasa umum dan “populer”.

  3. Parenting style
    Gaya parenting di Barat (terutama Amerika) lebih mendorong kebebasan berimajinasi. Anak-anak dibiarkan “berbicara” dengan teman imajiner tanpa cepat ditegur. Jadi kasusnya lebih terlihat dan terdokumentasi.


πŸ”Ή Negara lain bagaimana?

  1. Eropa & Australia
    Fenomena ini juga banyak ditemui, dengan data penelitian mirip Amerika (sekitar 30–65% anak pernah punya imaginary friend).

  2. Asia (Jepang, Korea, Indonesia, dll.)
    Masih ada, tapi sering ditafsirkan berbeda. Misalnya:

    • Di Jepang: kadang dianggap “yΕ«rei” (roh).

    • Di Indonesia: sering dikaitkan dengan makhluk halus, “teman gaib”, atau “pembuka mata batin”.
      Karena stigma mistis, banyak orang tua melarang atau tidak membicarakan hal itu, sehingga kasusnya jarang terdokumentasi secara ilmiah.

  3. Budaya tradisional
    Beberapa masyarakat menganggap imaginary friends sebagai “roh leluhur” atau “penjaga anak kecil”. Jadi lebih spiritual daripada psikologis.


πŸ”Ή Jadi kenapa “terlihat lebih banyak di Amerika”?

  • Sebenarnya bukan karena anak Amerika saja yang punya.

  • Tapi karena mereka lebih bebas bicara, lebih diteliti, dan didukung oleh media populer.

  • Di negara lain banyak juga, tapi sering tersembunyi atau diberi label berbeda (teman gaib, roh halus, dll.).


πŸ‘‰ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SURVIVAL INSTINCT

  Survival instinct adalah naluri dasar manusia untuk melindungi diri dan tetap hidup saat menghadapi bahaya, ketidakpastian, atau ancaman...