Mama bilang : " A person's true character is revealed when they are under pressure." ==> kalau mau lihat karakter asli seseorang itu kalau pas orang itu sedang mengalami tekanan berat. Apa dia menyalahkan orang lain, apa dia cari solusi. Apa dia perlakuan kamu baik, apa dia mentingin diri dia sendiri. ( 19 Juli 2026 )
Apa itu MENTAL HEALTH ? 23 Agustus 2026
| Istilah | Artinya sederhana | Contoh |
|---|---|---|
| 🧠 Mental health | Kondisi kesehatan mental secara keseluruhan | Sedang baik, stres, sedang kewalahan, atau sedang pulih |
| 🩺 Mental illness | Gangguan/penyakit mental yang memenuhi kriteria klinis | Depresi, gangguan kecemasan, bipolar, PTSD |
| ❤️ Emotional health | Kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi | Tahu sedang marah tanpa langsung melampiaskannya |
| 🔬 Psychological health | Kesehatan yang berkaitan dengan proses pikiran, perilaku, dan kemampuan beradaptasi | Cara menghadapi kegagalan, mengambil keputusan, membangun kepercayaan diri |
Hubungannya seperti ini
Mental health = payung besarnya ☂️
Di dalamnya ada aspek emosi, pikiran, perilaku, hubungan sosial, dan kemampuan menghadapi kehidupan.
Mental illness = kondisi klinis tertentu yang dapat muncul ketika kesehatan mental mengalami gangguan yang signifikan.
Jadi:
Mental health ≠ mental illness.
Seseorang bisa punya mental health yang sedang buruk tanpa mempunyai mental illness.
Contoh:
“Aku sedang sangat stres karena pekerjaan, susah tidur, dan pikiranku penuh.”
Itu menunjukkan kesehatan mental sedang terganggu/tertekan, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa orang tersebut mengalami gangguan mental tertentu.
Dan sebaliknya, seseorang yang punya mental illness tetap bisa mempunyai hari-hari ketika mental health-nya terasa baik.
Mental health → bagaimana kondisi mental kita.
Mental illness → gangguan klinis pada kondisi tersebut.
Emotional health → bagaimana kita mengelola emosi.
Psychological health → bagaimana pikiran dan perilaku kita berfungsi dan beradaptasi.
Stonewalling is when someone shuts down, withdraws, or refuses to engage during a conversation—especially in conflict. 23 Maret 2026
Instead of discussing the issue, they might:
Go silent
Avoid eye contact
Give one-word answers
Change the subject
Physically leave
Act emotionally detached
In relationships
Stonewalling is common during arguments. For example:
One partner wants to talk about a problem.
The other feels overwhelmed and emotionally “flooded.”
Instead of responding, they shut down.
Psychologist John Gottman identifies stonewalling as one of the “Four Horsemen” that can damage relationships if it becomes a pattern.
Why people stonewall
It’s often not about cruelty. It can happen because:
They feel overwhelmed
They fear conflict
They don’t know how to express emotions
They learned to avoid confrontation growing up
The difference between stonewalling and needing space
Healthy space: “I’m feeling overwhelmed. Can we take 20 minutes and come back to this?”
Stonewalling: Silence, refusal to respond, no plan to return to the conversation.
💬 How to respond to someone who is stonewalling
The key is: don’t chase, don’t attack, don’t beg. That usually makes them shut down more.
1. Stay calm + name what’s happening
You can say:
“I feel like you’re shutting down right now.”
“I want to talk, but it seems like you need a moment.”
👉 This shows awareness, not accusation.
2. Give space (but with structure)
“Let’s take a break and talk again in 30 minutes.”
“We can continue this later when we’re both calmer.”
👉 Important: always include a return time. Otherwise it becomes avoidance.
3. Set a boundary if it keeps happening
“I’m okay giving space, but I need us to come back and actually talk.”
“Ignoring me isn’t something I can accept long-term.”
👉 Calm, but firm. Not emotional explosion.
4. If they block or disappear
This is stronger than stonewalling—it’s avoidant behavior.
Your response:
Don’t chase
Don’t over-explain
Let them sit with their decision
You protect your dignity:
“I’m open to communication, but not silence.”
🐎 The “Four Horsemen” (from John Gottman)
These are 4 toxic communication patterns that predict relationship failure if repeated:
1. Criticism
Attacking the person, not the behavior
❌ “You’re always selfish”
✅ “I felt hurt when…”
2. Contempt (the worst one)
Disrespect, sarcasm, feeling superior
Examples:
Eye-rolling
Mocking
Insults
👉 This destroys emotional safety.
3. Defensiveness
Refusing responsibility, always blaming back
❌ “It’s not my fault, you started it”
👉 No one feels heard.
4. Stonewalling
Shutting down, ignoring, emotionally withdrawing
Mama bilang.. ada 2 orang yang kuliah di fakultas psikologi kata mama : ( 2001)
1. Orang yang sebenarnya sudah pintar psychology , Already wise / naturally understanding minds – they “get” people, emotions, and behavior without needing much help themselves.
2. Orang yang " berobat ". ( Read : Tidak sehat mental ), “Self-help” students – people who are drawn to psychology because they have their own mental stuff to work through.
It’s funny, but also kind of true — many people study psychology not only to understand others, but to understand and heal themselves.
JUJUR DALAM MENJAWAB PSIKOTES 25 Agustus 2026
Kata mama : kalau di test kita ga boleh tahu hasilnya terutama kalau buat kerjaan ( yang tahu hanya yang tukang test / pihak yang mempekerjakan dan tidak untuk di share ke banyak pihak )
Kata mama test terbaik adalah saat orang ga persiapan. Natural.
Orang itu cenderung pengen kasi jawaban ideal 💡 sementara fungsi test psychology adalah untuk mengetahui natural karakteristik.
Jadi pas saya mau test , selalu ingat kata kata mama :
Jawab yang paling sesuai denganmu. Jujur diri sendiri. Bukan yang menurut kamu akan dianggap baik oleh si penilai. Karena hasilnya justru akan kacau dan merugikan diri sendiri.
Psikotes atau tes kepribadian memang dirancang untuk menangkap karakter asli kita, bukan “jawaban sempurna” yang kita kira diinginkan orang lain. Kalau kita berusaha tampil ideal, hasilnya malah bisa kontradiktif dan terbaca “tidak konsisten,” yang akhirnya merugikan kita sendiri.
Makanya:
-
Tidak perlu over-preparation untuk psikotes.
-
Jawab sesuai diri sendiri, meski terasa sederhana.
-
Tujuannya bukan mencari “baik” atau “buruk,” tapi melihat apakah kepribadian kita cocok dengan posisi/lingkungan kerja tertentu.
Jadi, kejujuran dalam menjawab = hasil tes yang paling berguna untuk diri kamu sendiri. 🌿
Kalau kita menjawab tidak sesuai dengan karakter asli dalam psikotes, kerugiannya bisa cukup besar, baik jangka pendek maupun jangka panjang:
🔹 Kerugian Jangka Pendek
-
Ketahuan tidak konsisten → pola jawaban terlihat janggal, sehingga HRD/psikolog bisa menilai kita mencoba memanipulasi.
-
Risiko gagal seleksi → hasil tes bisa menunjukkan “tidak cocok” atau “tidak dapat dipercaya,” padahal sebenarnya karakter asli kita mungkin cocok.
-
Citra kurang jujur → HRD bisa merasa ragu karena ada tanda “fake good” (terlalu sempurna).
🔹 Kerugian Jangka Panjang
-
Ditempatkan di posisi yang salah → kalau hasil tes menunjukkan kita cocok jadi leader padahal aslinya kita lebih nyaman support, nanti kerjaan terasa berat, stres, bahkan burnout.
-
Tidak betah di lingkungan kerja → hasil manipulasi bisa membuat kita masuk ke tim/pekerjaan yang tidak sesuai karakter, akhirnya cepat ingin resign.
-
Kesempatan diri sendiri terhambat → karena kita tidak menampilkan diri asli, perusahaan juga tidak bisa memberikan peran yang benar-benar sesuai dengan potensi kita.
✨ Jadi, kerugian paling besar adalah kita menipu diri sendiri. Psikotes sebetulnya bukan untuk menilai baik-buruk, tapi untuk mencari cocok atau tidak cocok dengan pekerjaan/lingkungan tertentu.
KAOS MAMA ENI
Artikel “Psychology Mama Eni” ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, pengamatan, percakapan, dan interaksi saya bersama Mama Eni. Seluruh tulisan merupakan interpretasi dan sudut pandang pribadi penulis, bukan diagnosis, penilaian klinis, ataupun representasi profesional mengenai kondisi psikologis seseorang.
Tulisan ini dibuat sebagai dokumentasi dan refleksi pribadi untuk memahami karakter, pola perilaku, serta dinamika hubungan yang saya alami bersama Mama.
© 2026 Brigitta Stellani Sukamto. All Rights Reserved.
Dilarang menyalin, memperbanyak, mempublikasikan ulang, atau menggunakan sebagian maupun seluruh isi artikel tanpa izin tertulis dari penulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar