Smoking = stress π¬ 2 Agustus 2026. Brigitta Stellani Sukamto
Saya pernah merokok sejak ayah meninggal karena itu mengingatkan saya pada papa. Eyang kakung dan laki laki di keluarga saya adalah heavy smoker. Saya diajarin secara tidak langsung bahwa di keluarga kami, semua wanita bisa merokok untuk skill, tapi bukan pecandu.
Saya tidak mau merokok lagi karena alasan kecantikan.
1. Rokok itu membuat warna bibir saya lebih gelap
2. Asapnya tidak bagus untuk kesehatan kulit seperti polusi
2023-2026 / recently saya menemukan fakta mencengangkan.. Yaitu apabila pasangan / partners/ pria pria bertengkar dengan pasangannya, mereka akan pergi untuk merokok dan memenangkan diri.
Kemudian saya mengambil kesimpulan bahwa MEROKOK = STRESS π
Walaupun sebagian dari mereka karena habit, misalkan setelah makan.
Ketika saya melihat pria yang merokok setelah kerja, saya menafsirkan dia stress kerjaan
Ketika Mood terhajar saat tengkar dengan pacar /pasangan, daripada bertengkar, mereka merokok menenangkan diriπΆ
Hampir tidak pernah saya melihat orang bahagia dan merokok.
Pernah bertemu beberapa orang yang katanya sih bahagia jumpa ππ tapi kok merokok? Saya menafsirkan:
1. Nervous system nya aktif seperti gerogi
2. Berbohong ( atau sedang menceritakan kebohongan)
==> dan kecenderungan karakter mereka adalah yang kabur/ tidak dewasa /menelan ludah sendiri / tidak strong πͺ. Seperti mengajak berteman lalu cancel ❌π«.. Childish behavior dan not for a long friendship
==> secara teori umumnya mungkin ini dibantah yah. Ada yang bilang memang ada kok orang yang terbiasa.. Kalau saya lihat sih rumus rumus saya di atas yang tepat π
Biasanya orang S stress dan merokok karenaπ
1. Masalah kerjaan ( over burden kerja)
2. Masalah keuangan
3. Masalah relationship π ( atau tuntutan dalam berelasi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar