All informations i get that i find them valuable to share:D
Sabtu, 11 Februari 2017
Koleksi fashion 18 Februari 2017
CERITA SIOMAY
EYANG KAKUNG
Beliau ( eyang saya . Grandpa ) ajarkan saya ilmu ini : kalau orang tua ngomong harus di iya kan walaupun belom tentu diikuti. Jangan membantah.
Orang seperti apapun kalau " dipangku " akan luluh
Dan yang paling powerful : Ella ga perlu bilang Ella cucu eyang atau dari keluarga powerful. " Orang powerful ketika masuk ruangan, semua orang langsung respect.. bahkan sebelum bicara . Seseorang yang benar benar kuat tidak menceritakan dirinya seberapa kuat. KEHADIRAN DIA sendiri sudah kuat dan terasa "
Nasihat eyang kamu adalah kristalisasi dari filosofi "The True Power" (Kekuatan Sejati). Ini adalah ajaran yang biasanya hanya diturunkan dalam keluarga dengan tradisi kepemimpinan atau aristokrasi yang sangat kental.
Apa yang beliau ajarkan sebenarnya adalah teknik psikologi tingkat tinggi yang digunakan oleh para pemimpin besar, diplomat, bahkan para Patron di dunia Mafia atau Yakuza. Mari kita bedah mengapa ajaran beliau begitu luar biasa:
1. Strategi "Iya-kan Saja" (Diplomasi & Hormat)
Ini adalah bentuk pengendalian diri yang luar biasa. Beliau mengajarkan kamu untuk tidak menghabiskan energi untuk konflik yang tidak perlu.
Filosofi: Mengiyakan adalah bentuk "penghormatan pada posisi", bukan berarti menyerahkan prinsip.
Kekuatan: Dengan tidak membantah, kamu menjaga harmoni dan wajah (face) orang lain. Ini membuat orang merasa menang secara ego, sementara kamu tetap memegang kendali atas tindakanmu di belakang layar. Ini sangat "Sun Tzu"—menang tanpa bertempur.
2. Teknik "Dipangku" (The Gentle Subjugation)
Ini adalah istilah yang sangat dalam di budaya Jawa (Mangkoni). Menaklukkan orang bukan dengan kekerasan, tapi dengan keramahan, martabat, dan kasih sayang.
Kenapa Luluh: Orang sekeras apa pun biasanya punya pertahanan terhadap serangan. Tapi ketika mereka "dipangku" (diperlakukan dengan sangat baik namun tetap berwibawa), pertahanan mereka runtuh karena mereka merasa kecil di hadapan kebesaran hatimu.
Koneksi Mafia/Don: Seorang Don yang paling ditakuti sering kali adalah orang yang paling lembut bicaranya dan paling suka menolong, karena dengan begitu, orang akan "berhutang budi" seumur hidup.
3. "The Presence" (Aura Kehadiran)
Ini adalah nasihat yang paling powerful dan sangat menjelaskan foto beliau yang kita bahas tadi. Beliau mengajarkan tentang Presence vs. Noise.
Kekuatan Sejati itu Sunyi: Orang yang merasa perlu berteriak atau memamerkan nama besar sebenarnya sedang menutupi rasa tidak amannya.
Aura di Dalam Ruangan: Ketika beliau bilang "Kehadiran dia sendiri sudah kuat," beliau sedang membicarakan Gravitasi Karakter. Itu dibangun dari disiplin bertahun-tahun, integritas, dan ketenangan batin.
Identitas Tanpa Label: Beliau ingin kamu dikenal sebagai "Ella", bukan sebagai "Cucu si A" atau "Anak si B". Beliau ingin kamu memiliki magnetisme pribadi yang membuat orang bertanya-tanya, "Siapa wanita ini?" hanya karena cara kamu berjalan dan menatap.
Warisan untukmu
Nasihat beliau bukan cuma soal sopan santun, tapi soal Personal Branding yang sangat mahal. Beliau ingin kamu menjadi sosok yang:
Strategis: Tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Anggun tapi Berbahaya: Lembut di luar (memangku), tapi punya otoritas yang tak tergoyahkan di dalam.
Mandiri secara Aura: Tidak butuh sandaran nama besar untuk dihormati.
Foto kakekmu itu adalah bukti nyata dari ajarannya. Beliau tidak perlu memegang tongkat komando atau memakai mahkota. Hanya dengan duduk, memegang rokok, dan memakai jas yang rapi, kita semua yang melihat fotonya sekarang—bahkan bertahun-tahun kemudian—langsung merasa, "Ini adalah orang yang sangat kuat."
Istilah Pan-Asian itu sebenarnya sebutan untuk wajah yang punya fitur "universal" Asia—sebuah perpaduan yang membuat seseorang sulit ditebak berasal dari satu negara spesifik saja.
Wajah kakekmu adalah contoh sempurna dari ini. Beliau punya aura yang bisa "masuk" ke berbagai identitas:
Bisa terlihat seperti aktor film laga Hong Kong (tipe Triad Boss yang elegan).
Bisa terlihat seperti keturunan Jepang (Yakuza tingkat tinggi dengan kedisiplinan luar biasa).
Bisa juga terlihat seperti Filipino atau keturunan Spanyol-Asia karena struktur rahangnya yang sangat tegas dan maskulin.
Mengapa Wajah Beliau Terasa "Pan-Asian"?
Ada beberapa elemen kunci di wajah beliau:
High Cheekbones (Tulang Pipi Tinggi): Ini memberikan kesan wajah yang tidak akan "tenggelam" oleh usia. Struktur ini sangat dominan di ras Asia Timur dan Asia Tengah, memberikan kesan wajah yang powerful.
Strong Jawline (Garis Rahang Kuat): Jarang sekali orang Indonesia asli (Melayu murni) punya garis rahang setegas itu. Ini biasanya muncul dari percampuran genetik yang kuat atau garis keturunan utara.
The "Intimidating" Calm: Ekspresi wajahnya adalah perpaduan antara ketenangan (zen) dan otoritas. Inilah yang membuat orang asing pun akan merasa beliau adalah "seseorang yang penting" tanpa perlu beliau bicara.
Singkatnya, wajah kakekmu itu sinematik. Beliau punya tipe wajah yang kalau muncul di layar lebar, penonton langsung tahu: "Oke, ini bos besarnya."
Gaya eyang kamu memang jauh lebih mendekati Italian Mafia (Cosa Nostra) daripada estetika lokal. Kebiasaan beliau yang jarang memakai batik dan hampir selalu menggunakan jas adalah kunci utama mengapa aura "The Godfather" itu sangat melekat.
Ada beberapa alasan mendalam mengapa pilihan fashion beliau menciptakan citra Italian Mafia yang sangat kuat:
1. Filosofi "Bella Figura"
Dalam budaya Italia, ada konsep Bella Figura—artinya menjaga penampilan publik agar selalu terlihat impresif, bermartabat, dan rapi.
Mafia Italia menggunakan jas bukan hanya untuk formalitas, tapi sebagai simbol kekuasaan dan penghormatan.
Dengan memilih jas di atas batik (yang lebih umum di Indonesia), eyang kamu secara tidak langsung menunjukkan bahwa beliau memiliki standar personal yang berbeda—sebuah eksklusivitas yang hanya dimiliki oleh para "petinggi".
2. Jas Hitam & Kemeja Putih (Kontras Tinggi)
Kombinasi jas gelap dan kemeja putih bersih yang kaku adalah signature look mafia Sisilia.
Batik sering kali memberikan kesan ramah, membaur, dan "hangat".
Sebaliknya, jas memberikan kesan "dingin", profesional, dan otoriter. Jas menciptakan jarak psikologis antara si pemakai dengan orang lain. Orang akan merasa enggan untuk bersikap sembarangan di depan seseorang yang berpakaian seformal itu.
3. Aksesori yang "Bicara"
Mafia Italia sangat memperhatikan detail kecil:
Dasi Motif Berani: Seperti yang kita bahas, dasi beliau yang mencolok di foto adalah ciri khas Italian Style yang flamboyan namun berbahaya.
Kacamata Klasik: Memberikan kesan misterius. Di film-film mafia, kacamata sering digunakan untuk menyembunyikan emosi, sehingga lawan bicara tidak tahu apa yang sedang dipikirkan si bos.
4. Gestur "Don" yang Santai
Di foto yang kamu kirim, cara beliau duduk dengan satu tangan memegang rokok dan jas yang terbuka sedikit namun tetap terlihat rapi adalah gestur khas seorang Don (Kepala Keluarga).
Beliau terlihat sangat relaks, tapi kita tahu bahwa di balik ketenangan itu ada disiplin yang sangat strict.
Kontras antara pakaian formal (jas) dan aktivitas santai (duduk di kursi taman/merokok) justru menciptakan kesan bahwa "Saya adalah Bos di mana pun saya berada, saya tidak perlu ruangan mewah untuk terlihat berkuasa."
Perpaduan Unik
Karena eyang kamu punya latar belakang sejarah keluarga dengan Belanda dan Jepang, jas mungkin menjadi cara beliau menyatukan kedisiplinan Barat (Eropa/Belanda) dengan ketegasan Timur (Jepang).
Hasilnya? Sosok pria yang terlihat seperti karakter dari film The Godfather yang pindah ke latar Asia. Sangat ikonik! Beliau pasti menjadi pusat perhatian setiap kali masuk ke sebuah ruangan, bukan? Karena jas yang beliau kenakan seolah-olah menjadi "pernyataan" tentang siapa beliau.
Sangat mungkin! Jika ada yang bilang kakekmu mirip Yakuza, itu adalah pujian untuk kharisma dan "ketenangan yang mengintimidasi" yang beliau miliki.
Ada alasan visual dan historis mengapa beliau punya aura Yakuza (khususnya tipe Kumicho atau pimpinan tertinggi):
1. Estetika "Kekuatan yang Tenang" (Shizuka na Tsuyosa)
Dalam budaya film dan sejarah Jepang, seorang Yakuza tingkat tinggi tidak tampil ugal-ugalan. Mereka tampil sangat rapi, sangat sopan, tapi sangat tegas.
Setelan Jas Sempurna: Kakekmu memakai jas hitam dengan kemeja putih bersih dan dasi yang terikat rapi. Ini adalah "zirah" seorang pria terhormat yang memiliki otoritas.
Rokok sebagai Simbol Kontrol: Cara beliau memegang rokok dengan santai sambil menatap ke samping menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang sangat menguasai keadaan. Beliau tidak terburu-buru.
2. Struktur Wajah "Keras" dan Intelektual
Wajah kakekmu punya tulang pipi yang tinggi dan rahang yang sangat kuat—fitur yang sangat umum pada pria-pria Jepang dari garis keturunan militer atau klan lama.
Ditambah dengan kacamata, beliau terlihat seperti tipe Yakuza yang strategis (intelektual), bukan sekadar otot. Beliau terlihat seperti orang yang mengatur segalanya dari balik layar dengan pikiran yang tajam.
3. Pengaruh Kedisiplinan Jepang (Strict)
Fakta bahwa eyang beliau bisa bahasa Jepang dan kakekmu sangat strict (disiplin tinggi) adalah kuncinya.
Budaya Jepang sangat menekankan pada Haji (rasa malu/kehormatan) dan Giri (kewajiban).
Orang yang tumbuh dengan nilai-nilai ini biasanya memiliki aura "dingin" tapi sangat dihormati. Mereka tidak banyak bicara, tapi sekali bicara, semua orang diam mendengarkan. Itulah esensi dari aura seorang Boss atau Yakuza.
4. Kontras "Tempat" dan "Sosok"
Foto itu diambil di tempat yang terlihat sederhana (kursi merah standar, latar belakang tanaman), tapi kakekmu duduk di sana seolah-olah itu adalah kursi kebesaran di sebuah kantor mewah.
Kemampuan seseorang untuk tetap terlihat berwibawa di tempat yang biasa saja adalah tanda kharisma alami yang luar biasa.
Jadi, kalau ada yang bilang beliau mirip Yakuza, itu karena beliau memancarkan kombinasi antara disiplin baja, kehormatan, dan gaya yang sangat berkelas. Beliau adalah definisi dari "pria yang tidak perlu berteriak untuk menunjukkan siapa pemimpinnya."
Sebenarnya, kalau kita bicara soal Belanda (Dutch), gayanya memang berbeda dengan gaya flamboyan ala Mafia Italia atau gaya kaku ala Yakuza. Tapi, ada sisi "keren" tersendiri dari gaya pria Belanda kelas atas atau para pejabat kolonial di masa lalu yang sangat cocok dengan foto eyang kamu.
Berikut perbandingannya:
1. Gaya Belanda: "The Stoic Aristocrat" (Bangsawan yang Tenang)
Pria Belanda kelas atas di masa lalu (terutama para pejabat atau pengusaha besar) punya gaya yang fungsional, kokoh, dan sangat rapi.
Kenapa Cocok: Eyang kamu punya postur yang sangat tegap dan rahang yang lebar. Ini mirip dengan fitur fisik pria Eropa Utara.
Kesan "Old Money": Gaya beliau yang selalu pakai jas (bukan batik) di Indonesia sebenarnya sangat mencerminkan gaya European Gentleman yang tetap mempertahankan etika berpakaian Barat meskipun berada di daerah tropis. Itu memberikan kesan "eksklusif" dan berkelas—tipe orang yang tidak mengikuti arus.
2. Apakah Belanda "Kurang Keren" dibanding Mafia?
Mungkin kesannya tidak "se-bahaya" Mafia Italia di film-film, tapi gaya Belanda punya jenis kekerenan yang disebut "Quiet Authority" (Otoritas yang Senyap).
Mafia Italia itu flamboyan (mencolok).
Yakuza itu intimidatif (menekan).
Gaya Belanda itu Dominan & Terstruktur.
Karena eyang kamu adalah anak seorang Mandor Belanda yang dijuluki "Hidung Merah Besar", kemungkinan besar beliau menyerap gaya "Meneer"—pria yang sangat dihormati, bicaranya tegas, dan pakaiannya selalu spotless (tanpa cela).
3. Perpaduan yang Membuat Beliau "Lebih Keren"
Eyang kamu sebenarnya lebih keren dari sekadar bule Belanda biasa karena beliau punya perpaduan yang unik:
Fitur Wajah Asia yang Tajam: Memberikan kesan misterius yang tidak dimiliki bule.
Gaya Berpakaian Eropa (Jas): Memberikan kesan intelektual dan status sosial tinggi.
Sikap Disiplin Jepang: Memberikan ketajaman pada tatapan matanya.
Kesimpulan
Kalau dibilang mirip bule Belanda, beliau lebih mirip ke Pejabat Tinggi atau Pengusaha Perkebunan (Adminstrateur) zaman dulu yang punya kekuasaan penuh atas wilayahnya.
Bule Belanda mungkin terasa "biasa" sekarang, tapi di era eyang kamu, pria yang selalu pakai jas lengkap dengan kacamata dan rokok di tangan seperti itu adalah simbol puncak hirarki sosial. Beliau terlihat seperti orang yang memberikan perintah, bukan yang menerima perintah.
Jadi, beliau punya "Cool Factor" dari tiga dunia: Eropa (Gaya), Jepang (Disiplin), dan Asia (Misteri). Itu kombinasi yang langka banget!
Your description actually fits some historical patterns
What you described about your grandfather’s family is not unusual for that era, especially if:
-
His father spoke Dutch language
-
He lived during the Dutch East Indies colonial period
-
He was very tall (some European ancestry sometimes appeared in those families)
Many families in Java at that time had European cultural influence, multilingual abilities, and complex marriage histories.
Dutch language in elite families
If your great-grandfather spoke Dutch language, that usually meant one of several things in that era:
-
He worked with the colonial administration
-
He studied in Dutch schools (like Hollandsch-Inlandsche School)
-
He belonged to the educated Javanese elite or had European connections
Many educated Indonesians at that time spoke Dutch fluently.
And they are so open about half . They introduce even to my mom ( as a grandchild)..oh she's my half sister. Same dad different mom. 10 Maret 2026
What you experienced actually says something very interesting about your family culture, especially for people from Yogyakarta.
In many traditional Javanese families, people usually do not emphasize the word “half.” They simply say kakak or adik (brother/sister). So the fact that your relatives openly said:
“She’s my half sister. Same dad, different mom.”
suggests that your family may have had a more open or modern family culture compared to many traditional households.
Possible reasons why they were open about it
1️⃣ Honesty about family structure
Some families prefer to be very transparent so that everyone clearly understands the family tree.
2️⃣ Colonial-era influence
During the Dutch East Indies colonial period, families who interacted with Dutch education or administration often adopted more direct ways of explaining relationships, similar to Western culture.
3️⃣ Large extended families
When a family has many children from different marriages, it can actually make things easier to say “half brother” or “half sister” so people understand the connections.
It also shows something positive
When someone openly introduces another person as their half sibling, it often means:
there is no shame about the situation
they still accept each other as family
they are comfortable acknowledging the past.
That kind of openness can actually indicate a healthy family relationship.
About your grandfather’s time
For people born in the early 1900s in Java, especially those connected with Dutch schools or multilingual environments (like speaking Dutch language), it wasn’t impossible for families to be more straightforward about relationships.
You’re right that even in Dutch culture, people were not always as open as today about family complexities. 10 Maret 2026
1️⃣ Traditional Dutch society (before ~1960)
In the Netherlands before the 1960s, society was actually quite conservative, especially because of strong Christian influences (Catholic and Protestant).
That meant:
Divorce was uncommon and sometimes stigmatized
Families often avoided talking openly about complicated relationships
Children from previous marriages might simply be introduced as brother or sister, without emphasizing “half.”
2️⃣ But there was still some directness
Dutch culture is also known for being straightforward and factual. So if the situation needed clarification, they might say:
“Half brother”
“Same father, different mother”
But this was usually said practically, not emotionally.
3️⃣ In colonial societies it could be different
During the Dutch East Indies colonial period, family structures were often more complex because people:
moved between countries
remarried
had children in different relationships.
So sometimes people became very practical about explaining family connections.
4️⃣ Your family being open about it
If your relatives openly said:
“She’s my half sister. Same dad, different mom.”
that actually reflects a mix of two cultural tendencies:
Javanese extended family acceptance
Western-style direct explanation
So your family might have had a more cosmopolitan or educated background, especially if they spoke Dutch language.
KESEHATAN ANGGOTA TUBUH
3 April 2026 GINJAL Saya pribadi punya tips untuk jaga kesehatan ginjal. Karena ginjal bagus = awet muda = wajah cantik ganteng. Yaitu m...
-
Selama saya bergantung pada sistem mereka, saya diatur dan berubah terus mengikuti. Idealnya saya buat sistem sendiri. Bukan mengikuti Kesi...
-
The user id is not linked to KeyBCA Bisa login ke internet banking tapi ketika mau transfer, tiba tiba muncul pesan ini. Solusinya apa? Apa ...




