Kamis, 20 Maret 2025

COMPANIES BUSINESS ARCHITECTURE




If there's a new trend you gotta jump on it right away = langsung ambil dan segera


Customers only buy improvement..what can happen in the future. Instead of talking about the safety of the plan..they care about the trip to an island 🏝️. They care about what can improve their lives..



Iya. Intinya: ACTION.
Tapi bukan action asal-asalan — lebih tepatnya:

Action → feedback → adjust → repeat

Bukan:

mikir sempurna → nunggu yakin → baru jalan


Kalau diringkas super simpel:

  • Jalan dulu, walau belum rapi

  • Salah = data, bukan drama

  • Belajar sambil jalan, bukan sebelum jalan


orang yang mulai (walau salah)
akan selalu lebih dekat ke hasil
daripada orang yang hanya berpikir benar.


Bedanya orang jalan vs orang nunggu:

  • Nunggu: pengen aman → nggak ke mana-mana

  • Jalan: ambil risiko kecil → buka pintu besar


Tinggal satu hal: izinkan diri untuk mulai sebelum siap.

Kalau mau satu kalimat pegangan:

“Clarity comes from action, not thinking.”



You only improve what you measure.”
This sentence is short, but it’s brutally real in business, money, health, and even personal growth.


🧠 What it REALLY means

If something is not measured, it becomes:

  • Invisible

  • Emotional

  • Based on excuses or assumptions

Once you measure it, it becomes:

  • Concrete

  • Trackable

  • Improve-able

Measurement forces honesty.


📊 Real Examples (Very Practical)

💰 1. Money / Business

Not measured:

“I feel my business is not doing well.”

Measured:

  • Daily revenue

  • Conversion rate

  • Cost per customer

  • Repeat purchase %

👉 Result:
You stop guessing and start fixing specific leaks.

Example:

  • Revenue down ❌

  • But traffic same + conversion dropped
    ➡️ Problem is offer, not marketing.


🏃‍♀️ 2. Health & Body

Not measured:

“I eat healthy.”

Measured:

  • Calories

  • Protein intake

  • Steps per day

  • Sleep hours

👉 Result:
You discover:

  • “Healthy” food still causes weight gain

  • Sleep is killing energy more than diet


🧠 3. Skills & Intelligence

Not measured:

“I read a lot.”

Measured:

  • Pages per day

  • Notes written

  • Ideas applied

👉 Result:
You realize reading without output = entertainment, not growth.


👗 4. Fashion / Personal Brand (Very You)

Not measured:

“People like my style.”

Measured:

  • Compliments per outfit

  • Photos saved

  • Engagement on posts

  • Repeat buyers for certain designs

👉 Result:
You see which aesthetic actually works for you.


🏛️ 5. Leadership / Rotary / Organization

Not measured:

“We are active.”

Measured:

  • Attendance %

  • Funds raised

  • Projects completed

  • Beneficiaries impacted

👉 Result:
Impact becomes undeniable — or weaknesses become clear.


⚠️ Important WARNING

Measurement changes behavior.

That’s good — but dangerous if you measure the wrong thing.

Bad measurement examples:

  • Measuring hours worked instead of output

  • Measuring followers instead of trust

  • Measuring sales without margin

What you measure, you optimize — even if it destroys you.


🔑 The Smart Rule

Measure:

  1. Inputs (effort, habits)

  2. Outputs (results)

  3. Leverage points (small changes → big impact)✨ 




Kamu tidak salah menangkap realitasnya. Ini memang perubahan zaman, bukan karena kamu “kurang usaha”.

Penjelasan jujur & strukturalnya begini:

1️⃣ Dulu vs Sekarang (kenapa terasa lebih mudah dulu)

Generasi lama:

  • Penduduk lebih sedikit

  • Kompetisi rendah

  • Teknologi belum masif → skill dasar saja sudah cukup

  • Loyalitas brand tinggi (orang jarang pindah pilihan)

Sekarang:

  • Populasi besar + urbanisasi

  • Semua orang bisa jualan online → pasar sangat jenuh (saturated)

  • Konsumen lebih kritis, banding harga & kualitas

  • Margin makin tipis karena perang harga

Jadi benar: bukan cuma perasaan, tapi data sosial-ekonomi.


2️⃣ Masalah utama zaman sekarang

Bukan “tidak ada uang”, tapi:

  • Uang berpindah lebih cepat

  • Winner takes more (yang beda/kuat branding ambil banyak)

  • Middle player tertekan

Makanya:

kerja keras ≠ otomatis kaya
pintar positioning > pintar kerja


3️⃣ Kenapa kamu terasa “kena” banget

Dari konteks hidupmu:

  • Kamu pernah jadi top seller → artinya kompeten

  • Tapi platform berubah, algoritma berubah, biaya naik

  • Sistem dropship & mass seller sudah tidak ramah pemain lama

Ini bukan kegagalan personal, tapi pergeseran sistem.


4️⃣ Cara realistis bertahan & naik di era saturated

Bukan tambah capek, tapi ubah sudut main:

A. Jangan main mass market
→ Itu medan perang paling berdarah
→ Pilih niche + cerita + nilai

Contoh relevan dengan kamu:

  • Batik bukan “baju”, tapi:

    • heritage

    • status

    • cerita budaya

    • limited & personal

B. Dari jual barang → jual makna
Orang kaya tidak beli murah, mereka beli:

  • identitas

  • cerita

  • kepercayaan

C. Naik kelas pelan tapi stabil

  • Kurangi produk, naikkan positioning

  • Dari “seller” → kurator / storyteller / brand owner


5️⃣ Kalimat penting (biar kamu tenang)

“Zaman ini tidak kejam, tapi selektif.”

Dan kamu punya modal penting:

  • taste

  • intuisi

  • pengalaman

  • visi global

Banyak orang punya energi, tapi tidak punya arah.
Kamu kebalikannya.



Tiga istilah ini sering dipakai dalam strategi bisnis dan inovasi:

1. Value Creating (Menciptakan Nilai)

➡️ Perusahaan menghadirkan sesuatu yang baru atau lebih baik untuk konsumen.
Contoh: Apple menciptakan iPhone → gabungan ponsel + internet + iPod.

2. Value Capturing (Menangkap Nilai)

➡️ Bagaimana perusahaan mengubah nilai yang diciptakan menjadi pendapatan/laba.
Contoh: Apple bukan hanya jual produk, tapi juga ekosistem App Store → recurring income.

3. Value Eroding (Nilai yang Terkikis)

➡️ Ketika nilai yang diciptakan hilang atau berkurang karena:

  • Kompetitor masuk dengan harga lebih murah.

  • Teknologi jadi usang.

  • Konsumen beralih ke tren baru.
    Contoh: Nokia kehilangan pasar smartphone karena tidak ikut tren layar sentuh.


🔑 Intinya:

  • Menciptakan nilai = inovasi/solusi.

  • Menangkap nilai = strategi monetisasi.

  • Nilai terkikis = risiko kalau tidak beradaptasi.



BUSINESS ARCHITECTURE MINDSET

"Business architecture mindset" adalah cara berpikir strategis dan sistematis yang fokus pada **membangun, merancang, dan menyelaraskan struktur bisnis** agar mendukung visi jangka panjang perusahaan. Ini bukan cuma soal membuat struktur organisasi, tapi bagaimana semua elemen—proses, orang, teknologi, informasi, strategi—terkoneksi dan mendukung tujuan bersama.


Berikut poin-poin utama dari **mindset business architecture**:


---


### 1. **Holistic Thinking (Berpikir Menyeluruh)**

Melihat bisnis sebagai satu ekosistem yang saling terhubung, bukan bagian-bagian yang terpisah.


> *Contoh: Bukan hanya memperbaiki tim marketing, tapi melihat bagaimana marketing, sales, dan customer support membentuk satu alur pengalaman pelanggan.*


---


### 2. **Strategic Alignment**

Memastikan semua proyek, inisiatif, dan proses operasional selaras dengan strategi bisnis utama.


> *Misal: Jika strategi bisnis adalah ekspansi global, maka arsitektur bisnis akan mencakup kesiapan sistem logistik internasional, kebijakan, dan kemampuan digital.*


---


### 3. **Blueprint Thinking**

Menggunakan peta atau “blueprint” untuk menggambarkan hubungan antar bagian—misalnya:

- Capability map (kemampuan organisasi)

- Value streams (alur penciptaan nilai)

- Information map

- Org structure & business processes


---


### 4. **Customer-Centric**

Fokus pada penciptaan nilai bagi pelanggan, dan bagaimana struktur internal mendukung itu.


> *Bukan sekadar efisien, tapi bagaimana perusahaan memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan.*


---


### 5. **Adaptability & Change-Ready**

Membentuk struktur yang fleksibel agar bisa cepat beradaptasi dengan perubahan pasar, teknologi, atau regulasi.


---


### 6. **Cross-Functional Collaboration**

Business architect harus bisa menjembatani antar tim: IT, operasional, manajemen, dan bisnis agar semua bagian bicara bahasa yang sama dan bergerak searah.


---


Kalau kamu tertarik menerapkan mindset ini dalam bisnismu, bisa mulai dari:

- **Mendefinisikan core capabilities**

- **Membuat peta alur nilai (value streams)**

- **Melihat kesenjangan antara kondisi sekarang dan target**

- **Menghubungkan proyek dan teknologi dengan tujuan bisnis**


Kamu pengen pakai mindset ini untuk skala startup, UMKM, atau organisasi yang lebih besar? Aku bisa bantu bikin blueprint dasarnya.

WHY EXPENSIVE?

The **World Economic Forum (WEF) Annual Meeting in Davos** is expensive because it is an **exclusive, high-level gathering** that provides access to **powerful global leaders, top executives, and policymakers**. Here’s why the costs are so high:  


### **1. Exclusive Membership & Networking**  

- WEF is a **private organization**, and its events are designed for **elite decision-makers** in business, government, and academia.  

- The high cost ensures that only **serious players**—like CEOs of Fortune 500 companies, heads of state, and leading academics—attend.  

- The event offers **unmatched networking** opportunities with top global influencers.  


### **2. High Event Costs & Logistics**  

- Davos is a **small Swiss town**, and hosting thousands of VIPs requires **extensive security, accommodations, and logistical planning**.  

- Security is tight, involving **Swiss police, private security firms, and even military support**.  

- The event includes **hundreds of sessions, keynote speeches, and high-tech facilities** for discussions.  


### **3. Brand & Prestige**  

- Being part of WEF **signals status** and influence in global decision-making.  

- Companies and leaders **pay to gain visibility** among the world's most powerful people.  


### **4. Funding WEF’s Global Initiatives**  

- WEF is a **non-profit** but runs multiple global initiatives in **climate change, digital transformation, economic development, and AI governance**.  

- Membership fees help fund these programs.  


It’s essentially a **pay-to-play** event where businesses and leaders invest in influence, networking, and shaping global policies.  


FREE OR NO?

No, attending the **World Economic Forum (WEF) Annual Meeting in Davos** is not free. It is an **invite-only** event, primarily for **business leaders, politicians, academics, and influential figures**.  


### **Cost Breakdown:**

1. **Membership Fees** – To attend, a company must usually be a **WEF member**, which costs anywhere from **$65,000 to $650,000 per year**, depending on the level of membership.  

2. **Participation Fees** – Even if a company is a member, individuals still need to pay an additional fee to attend Davos, which can be around **$19,000 - $29,000 per person**.  

3. **Travel & Accommodation** – Since Davos is expensive, attendees also pay high costs for hotels, transportation, and food.  


### **Who Can Attend for Free?**  

A few select groups may **attend without paying**:  

- **Government Officials** (some are invited as speakers or participants).  

- **Young Global Leaders** (a WEF program for emerging leaders).  

- **Journalists & Media** (if accredited).  

- **NGOs and Academics** (some may get invitations or scholarships).  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CAPYBARA Superplay Playground

Capybara ~ Superplay Playground ~ Palagan 23 Januari 2026 Rabbit Kelinci 20 Januari 2026 🐇🐰 RUANG TENGAH PINK DUSTY 20 Januari 2026 TURTLE...