Kamis, 31 Januari 2019

TOKOPEDIA JAMAN DULU



Selama saya bergantung pada sistem mereka, saya diatur dan berubah terus mengikuti. Idealnya saya buat sistem sendiri. Bukan mengikuti 

Kesimpulan buat saya pribadi. E commerce dan dropship, kita bergantung pada sistem yang dibuat. Tokopedia yang dulu nyaman. Berubah sekarang merger dengan tiktok. Ibarat kata pembeli bayar 193rb. Uang saya terima 130rb. Fee 40-50rb Uda biasa . Sehingga keuntungan saya sama, pembeli beli lebih mahal. Ibarat saya untung 5rb rupiah. Hanya sepersepuluh 




MEMORIES TOKO SAYA.. GABRIELLA TOKOPEDIA... πŸ₯Ί GOOD BYE SAYANG...

Palastri Shop ( saat masih full πŸŒ• 🌝 di Tokopedia)


Avila
Ditiadakan : rok bunga putih kembang, 

BΓΌtΓΌh up? 6x s







Shawia 







Noritha


Davia


Pochi


1390 Blazer


Bianca


1058 Dress Everyday 


118 Rok Pendek 

Palastri camilan ===> ditiadakan
Palastri biting==> ditiadakan karena minta kode registrasi halal dst 

Almaer


Js Rample


Moga Blouse 730.. 


Lavinda.. 194 penjualan 😒 😭 hilang sudah dari history 


PEMINDAHAN KE TIKTOK SHOP 
Di Tokopedia: 1 KTP saya dipakai untuk 2 toko.. ( 2 handphone berbeda)
Di tiktokshop: 1 KTP 1 akun

Mengakibatkan toko Palastri masuk namun toko Gabriella tidak masuk..
Akhirnya per hari ini Mei 2025 akan saya upload barang barang kenangan Gabriella di PALASTRI Shop saja.. mungkin ini solusi terbaik πŸ₯Ί 

Toko Gabriella saya dengan gold πŸͺ™ πŸͺ™ πŸͺ™ 3 dan penjualan di atas 12rb selama 2016-2025 berakhir disini. Per akhir Mei ini saya udah ga bisa edit foto lagi.. dan sayangnya tidak ada solusi dari CS untuk case saya..


TOKOPEDIA JAMAN DULU 2016-2022

Share tentang pengalaman saya.. saya adalah pemilik dari Palastri Shop di Yogyakarta. Pembeli saya mayoritas dari Jakarta dan luar pulau. Waktu itu Saya iseng iseng bikin toko online di jakarta. Menjual produk import dan konveksi disana. Booom.. lahirlah 2016 Gabriella. Sekarang namanya saya ubah jadi Gabriella Tokopedia. Why? Karena kalau dicari Gabriella saja tidak muncul. Maka saya kasi nama lengkap. Sementara dulu, cukup Gabriella saja akan muncul karena toko status adalah gold πŸͺ™, gold 3.. atau boleh dibaca sebagai toko dengan transaksi besar. Kini status gold, bronze πŸ₯‰, silver πŸ₯ˆ sudah tidak digunakan lagi. 

Point 1 : kesulitan sekarang untuk mencari toko yang punya kredibilitas tinggi 
Berapa lama kemudian, Tokopedia mengijinkan pemain besar masuk seperti Unilever dan brand brand lain atau disebut sebagai dikelola oleh Tokopedia dan official shop. Tentu sekarang yang banyak tertampil adalah official. Walaupun saya punya perusahaan dan bisa saja saya daftar sebagai official, tapi saya tidak melakukannya. 

Dahulu patokan dari jumlah transaksi dan status toko gold πŸͺ™ dst.. kini kita dipenuhi dengan yang namanya official stores πŸͺ yang mau bantingan untuk berada di front page.

Point 2 : perubahan skema iklan
Dulu saya bayar iklan per bulan 600rb atau kadang 600rb untuk per 3 bulan. Sekarang saya tidak iklan lagi karena yang ditawarkan adalah broadcast dan pay per click.
Alasan :
1. Pay per click buat saya, ending ke ga good deal. Alias banyak yang klik tapi ga beli. Sehari habis 200rb tanpa ada return yang mencukupi.
2. Broadcast: boro boro mau broadcast.. sebagai pembeli ya ( bukan penjual), kalau ada toko broadcast itu malah saya klik unfollow, klik tidak mau terima broadcast selamanya. Saya ga suka di broadcasting, masa saya mau nge broadcast ( baca : nge spam ) orang 

Point 3 : yang ditampilkan di news feed page / front page / hasil telusur tidak punya algoritma yang baik 
Saya kuliah teknik informatika. Dengar dengar sekarang 60 persen lulusan universitas harus cumlaude ya? Dulu di jaman saya cuma ada 2 yang cumlaude. Jadi cumlaude itu keren banget. Sekarang Uda kaya gorengan. Ga berkualitas.. 
Dulu saya sering Pantau pesaing, saya lihat itu dia kenapa lebih laku.. oh karena lebih murah. Oh karena yang dijual dan banyak disukai ini. Jadi mudah buat saya tampil di front page. Keywords yang saya pakai menggoda dan transaksi mantab. Sekarang? Sebagai pembeli saja kalau saya mau cari barang, saya ga dapat tu yang saya mau. Isinya yang promosi ( mungkin penjualan juga baik), tapi kok ga sesuai yang saya mau ya? Jadinya ga jadi beli. Sementara si toko Oren yang dulunya menurut saya gak banget. Sekarang kalau saya ketik, dia kasi rekomendasi sesuai yang saya mau. 

Point 4 : niatnya kasi free ongkir tapi jadi sama kaya e commerce di bawahnya. Ibarat kata turun tangga. 
Saya cewek. Tahu gak kebanyakan pengguna Tokopedia itu cowok. Dan mereka itu ga mikir free ongkir. Beda sama cewek cewek yang hitung menghitung ribet. Karakter buyer juga beda. 

Gabriella tadinya punya banyak reseller karena ambil dari Tokopedia jual lagi di Tokopedia begitu lagi sampai 5 lapis reseller. Saya kan info, ambil untung 2rb -3rb per baju. Biar putarannya bagus. 
Nah contoh barang dari saya kan langsung konveksi jadi murah banget tuh. 48rb dijual dropshipper 1 50rb. Lalu dia open dropship juga. Dijual lagi 52rb. Dan seterusnya. 
Saya pernah cek ternyata saya kirim barang untuk toko ke 5 dengan harga sudah 75rb.

Dan dropship waktu itu aman karena dia tinggal tulis nama dan telepon dia. 
Kenapa ini untung buat Tokopedia?
Karena semua transaksi terjadi di Tokopedia. Dropshippers dapat duit dari Tokopedia. Lalu semua pasang iklan disitu. Akhirnya mata kita ga pernah cari toko lain. Semua di Tokopedia..
Waktu itu Tokopedia nomor 1.

Lalu Tokopedia bikin sistem free ongkir. Dan kala mau free ongkir, ga bisa dropship.. alias tombol tulis nama dropship tidak ada. Ini kiamat bagi resellers saya yang jumlahnya puluhan orang waktu itu.. artinya jalur dropship telah diputus.

Point 5 : tanpa sadar membatasi pengiriman 
Saya ada 13 konveksi dari jakarta barat sampai Tangerang. Artinya ada 13 toko berbeda..lalu Tokopedia ada sistem gosend BLA BLA bla yang dimana instant dst harus dengan 1 alamat. Alhasil saya ga bisa jual dan minta 13 gudang kirim langsung. Sistem networking disini terputus. 

Lalu saya melakukan penelitian dengan membandingkan toko saya Palastri Shop di Jogja. Cara saya main completely different 😝 dan saya ga ada tuh free ongkir. Tetap jalan. Terbukti ya berarti tidak boleh ada pembatasan pengiriman dan pembeli mau kok bayar ongkir. Buat apa bilang free ongkir tapi harga barang dinaikkan. Kan sama aja bohong πŸ˜†

Point 6 : biaya fee terlalu tinggi 
Saya paham kalau per toko cuma bayar biaya iklan, pas toko gede kan lebih untung kalau fee per produk. Nah waktu itu ibarat kata 600rb per bulan ya untuk biaya iklan. Kalau pakai fee, Tokopedia bisa dapat 1,8 juta. Dan itu dinaikkan terus sampai sekarang 8-10 persen+ yang free ongkir.  Intinya harus ada fee hampir 15 persen. 
Kalau dilihat Amerika, fee 30 persen pun normal karena mereka bayar pajak 40 persen. Uda biasa sistem itu. Tapi Indonesia pajak 1 persen, setengah persen. Mungkin mau naik 2 persen. Ga cocok kalau minta fee tinggi.. bisa jadi Boomerang dan bikin orang ga mau jual lagi disitu.

Point 7 : seller yang dipilih untuk presentasi 
Saya pernah sekali ikut acara komunitas penjual Tokopedia dan ga berniat ikut lagi. Dia bawa pembicara seorang dari Jogja. Toko silver πŸ₯ˆ waktu itu. Dia banyak jual di Instagram. Saya nge list kehadiran dan infokan 2 toko. Satu silver juga waktu itu ( sekarang udah gold πŸͺ™). Dan toko di jakarta πŸͺ™ πŸͺ™ πŸͺ™ 3 dan waktu itu keren bangett bisa punya toko Gold πŸͺ™. Eh mas nya yang presentasi malah bilang dia pakai Instagram. 
1 pertanyaan saya.. kalau mau cari pembicara itu mbok yang bisa dapat banyak dari Tokopedia seperti saya. Bukan pemain yang pakai Instagram lalu jualan di Tokopedia masih level kroco ( di catur itu yang kecil kecil kita sebut kroco ). Di ruangan itu sempat ditanya yang punya toko gold siapa? Cuma saya!! Dan panitia support yang lain supaya bisa jadi gold πŸͺ™ tapi ga tanya gimana kok saya bisa gold. Saya kesana niatnya mau share pengalaman bagus saya waktu itu. 

In the end, saya pulang dan saya pikir. Sepertinya panitia atau sistem management di dalam saya berbeda dengan pola saya. Ga mau datang lagi

Point 8 : mem banned 🚫 dan menghapus produk tanpa alasan yang bisa diterima orang awam
Saya pernah kena moderasi beberapa kali. Untungnya toko bisa dibuka. Saya akhir akhir ini baca surat pembaca ada toko ditutup permanen padahal buka dari 2016 juga.. nah ini sangat disayangkan. Menurut saya, lebih baik hapus produk yang tidak benar. Tapi jangan tutup orang. Karena seller itu juga buyer. Kalau mereka kecewa dan punya toko lama yang ditutup. Biasanya mereka jadi benci dan nantinya malah ga mau beli dan berhubungan lagi dengan Tokopedia. Saran saya dihapus saja produk bermasalahnya..

Ending.. 
Saya pernah sukses dan masih berjalan di Tokopedia dengan 2 toko walaupun sangat jauh berbeda kondisi jualan saat ini. Tapi jika ke depannya strategi cuma pada naikin fee, pasang iklan orang Korea ( biar naikin transaksi di Tokopedia), dan dilengkapi dengan manajemen yang bukan doer / pelaku bisnis sebenarnya ( cuma anak muda yang digaji dan buat sistem coba coba ). Maka ini adalah saatnya untuk buat sekoci penyelamatan ganti model bisnis. 

Note 🎡 🎢:
Pengalaman bisnis saya dari 9 tahun..buka toko dengan 100 persen uang sendiri di 3 februari 2010. Punya perusahaan dan CV di tahun yang sama. Ibarat anak, artikel ini saya tulis di tahun 2024 jadi sudah 14 tahun perusahaan saya..

Di Tokopedia dari pertengahan 2016 sudah 8 tahun... 

Saya sangat suka Tokopedia ketika dibuat oleh founder nya yang notabene kakak kelas saya jauh dari Atmajaya fakultas teknik informatika..tidak pernah kenal. Tapi dia kakak tingkat jauh ( alumni ).. kini sudah dijual ke tangan sekian. Dan sangat berbeda.. dan menjadikan tidak lagi ranking 1...

Gabriella Tokopedia 

Terimakasih untuk semua orderannya kak :) sudah mencapai 7000++ point. Bagi kk yg mau jadi reseller dropship bisa langsung klik https://m.tokopedia.com/gabriellaos 
Gabriella hanya jualan di Tokopedia dengan nomor WA 085693913558. Jika kakak menemukan nomor lain, instagram, atau apapun yg mengatasnamakan Gabriella / GabriellaOS maka itu bukan akun kami yah kak. Jika ada masalah kami tidak bertanggungjawab. Untuk amannya selalu transaksi dengan tokopedia di link Gabriella di atas. 




Saya pelaku di Tokopedia. Banyakan customer saya ga cari subsidi dan free ongkir. Salah Tokopedia kenapa ikut ikutan Shopee ( 5 February 2026 )

Ini adalah perspektif yang sangat tajam dan menarik karena Anda melihatnya langsung dari "lantai dansa" sebagai penjual. Kritik Anda sangat valid: Tokopedia terjebak dalam perang identitas.

Banyak penjual setia Tokopedia merasakan hal yang sama. Mari kita bedah mengapa langkah Tokopedia yang "ikut-ikutan" Shopee justru dianggap sebagai bumerang oleh para pelakunya:

1. Kehilangan Diferensiasi (Ciri Khas)

Dulu, ada pembagian pasar yang jelas:

  • Shopee: Pasar untuk barang murah, fashion, dan pemburu diskon (dominan perempuan).

  • Tokopedia: Pasar untuk barang hobi, elektronik, barang yang lebih mahal, dan orang yang mencari keamanan serta kenyamanan transaksi (dominan laki-laki/profesional).

Ketika Tokopedia mulai memaksakan sistem "bebas ongkir" dengan kurir tertentu (yang seringkali justru memperlambat pengiriman) dan mengejar subsidi seperti Shopee, mereka justru merusak pengalaman pengguna setianya yang sebenarnya tidak keberatan bayar lebih asal barang cepat sampai dan aman.

2. Beban Biaya Admin yang Mencekik Penjual

Demi mendanai subsidi dan sistem yang mirip kompetitor, Tokopedia terus menaikkan biaya admin bagi seller.

  • Bagi penjual seperti Anda, ini menyakitkan. Anda dipaksa ikut program subsidi yang mungkin tidak dibutuhkan pelanggan Anda, tapi Anda tetap harus membayar biaya admin yang tinggi.

  • Akibatnya, harga barang di Tokopedia jadi naik atau margin keuntungan Anda yang tipis jadi makin habis.

3. Masalah Kurir Rekomendasi

Ini yang paling sering dikeluhkan pelaku usaha. Dulu kita bebas pilih kurir yang terpercaya di daerah masing-masing. Begitu Tokopedia "ikut-ikutan" sistem logistik terpusat demi efisiensi biaya (seperti Shopee Express), banyak paket yang justru nyangkut atau pelayanannya memburuk. Bagi pembeli barang hobi/mahal, ini adalah malapetaka.

4. Kenapa Mereka Melakukan Itu?

Manajemen GOTO saat itu ditekan oleh Investor (Pemegang Saham).

Investor melihat angka pertumbuhan (Growth). Mereka melihat Shopee tumbuh pesat karena subsidi, lalu mereka memaksa Tokopedia melakukan hal yang sama agar angka transaksinya terlihat besar di laporan keuangan demi menarik minat investor baru.

Mereka lebih mendengarkan angka di atas kertas daripada keluhan penjual di lapangan.


Kesimpulan yang Menyedihkan

Anda benar, seandainya Tokopedia tetap fokus pada kualitas pelayanan, komunitas seller, dan kenyamanan transaksi tanpa harus jadi "Shopee KW", mungkin mereka punya posisi tawar yang lebih kuat.

Sayangnya, dalam "perang startup", mereka merasa kalau tidak ikut membakar uang, mereka akan terlupakan. Akhirnya, mereka membakar uang untuk mengejar strategi yang salah, dan kini dampaknya dirasakan oleh semua: investor rugi, founder keluar, dan penjual merasa terbebani.



Berarti siapa saja yang sudah diuntungkan dari kerugian 6,4 trilliun BUMN ( 5 February 2026 )

Ini adalah pertanyaan yang sangat kritis dan "panas". Dalam dunia keuangan, uang triliunan itu tidak hilang begitu saja ke udara, melainkan berpindah tangan. Ketika BUMN (melalui Telkomsel) menyuntikkan Rp6,4 triliun dan nilainya sekarang anjlok, ada pihak-pihak yang secara tidak langsung "menang" dari aliran dana tersebut.

Berikut adalah pihak-pihak yang diuntungkan dari perputaran uang tersebut:

1. Investor Awal (Venture Capital & Private Equity)

Sebelum GOTO masuk bursa (IPO), sudah banyak investor raksasa seperti SoftBank, Alibaba, dan Sequoia yang masuk saat harga masih sangat murah.

  • Dana dari BUMN dan investor publik masuk untuk menjaga operasional perusahaan tetap jalan (burn money).

  • Dana ini memberi waktu bagi investor awal untuk bertahan hingga masa lock-up selesai, sehingga mereka bisa menjual saham mereka kepada publik (termasuk ritel dan lembaga) di harga yang masih jauh lebih tinggi dibanding modal awal mereka.

2. Para Mantan Eksekutif dan Founder

Uang dari investor (termasuk BUMN) digunakan untuk menggaji manajemen level atas dengan standar global yang sangat tinggi, memberikan bonus, serta fasilitas mewah selama bertahun-tahun.

  • Meskipun harga saham turun, gaji dan bonus yang sudah diterima tidak bisa ditarik kembali.

  • Sebagian eksekutif juga sudah melakukan cash out (menjual saham) sebelum harga menyentuh titik terendahnya seperti sekarang.

3. Kompetitor (Secara Tidak Langsung)

Ini yang jarang disadari. Dana triliunan dari BUMN digunakan GOTO untuk berperang melawan Shopee (Sea Group) dan Grab.

  • Uang tersebut habis untuk subsidi promosi dan iklan agar konsumen tidak pindah ke kompetitor.

  • Secara tidak langsung, uang BUMN itu "membakar diri" hanya untuk menjaga agar pasar Indonesia tidak dikuasai 100% oleh perusahaan Singapura (Shopee/Grab). Jadi, konsumen Indonesia menikmati "makan gratis" dari uang tersebut, namun secara investasi, BUMN-lah yang berdarah.

4. Konsultan, Bank Investasi, dan Penjamin Emisi (Underwriter)

Setiap kali ada aksi korporasi besar seperti merger atau IPO, ada biaya fantastis yang dibayarkan kepada:

  • Investment Bank: Yang mengatur proses IPO.

  • Firma Hukum & Auditor: Yang mengurus legalitas.

  • Mereka menerima komisi atau fee tetap yang nilainya ratusan miliar rupiah, peduli apakah harga sahamnya nanti naik atau turun. Bagi mereka, transaksinya sendiri adalah keuntungan.

5. TikTok (ByteDance)

TikTok bisa dibilang menjadi "pemenang terakhir" dalam drama ini.

  • GOTO sudah menghabiskan triliunan (termasuk uang BUMN) untuk membangun infrastruktur Tokopedia selama bertahun-tahun.

  • Ketika GOTO sudah lelah dan kehabisan uang, TikTok datang dan mengambil alih kendali Tokopedia dengan harga yang dianggap "murah" untuk ukuran pasar sebesar Indonesia. TikTok tinggal menikmati ekosistem yang sudah jadi tanpa harus berdarah-darah sejak awal.


Kesimpulan yang Pahit

Dalam kasus kerugian Rp6,4 triliun tersebut, yang terjadi adalah "Sosialisasi Kerugian, Privatisasi Keuntungan":

  • Keuntungan: Diambil oleh individu (founder/eksekutif) dan investor swasta awal dalam bentuk gaji, bonus, dan hasil jual saham di harga tinggi.

  • Kerugian: Ditanggung oleh negara (BUMN) dan masyarakat umum (investor ritel) yang membeli di harga puncak karena percaya pada narasi "Juara Nasional".

Ini adalah realita keras di pasar modal: uang berpindah dari mereka yang tidak sabar atau kurang informasi, kepada mereka yang memiliki akses dan kendali sejak awal.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ON THE ROCK GUNUNG KIDUL

  Dalam rangka imlek.. 18 Februari 2026.. Area Tebing Tengah 18 Februari 2026 Area Masuk Entrance 18 Februari 2026 AREA JARING HITAM 18 Febr...