Why Javanese only bring jasmine and roses to cemetery. Not other flowers?
In Javanese culture, the choice of jasmine (melati) and roses (mawar) for cemetery visits isn’t random — it has deep layers of meaning tied to symbolism, tradition, and mysticism. 🌹✨
Here are the main reasons:
-
Symbolism of Purity and Love
-
Jasmine (melati) symbolizes purity, sincerity, and sacredness. It’s a small, white, fragrant flower — seen as clean and simple, suitable for honoring the spirits of ancestors.
-
Rose (mawar) symbolizes love, respect, and beauty. Red roses often represent devotion, while white roses represent sincerity.
-
Traditional Rituals (Ziarah Kubur)
-
In Javanese and Islamic tradition, flowers are sprinkled over graves during ziarah as a sign of respect and prayer for the deceased.
-
Jasmine and roses are commonly available, strongly scented, and considered “halus” (refined) compared to larger or gaudy flowers.
-
Mystical and Spiritual Aspect
-
Fragrance is believed to attract good spirits and ward off negative ones. Jasmine and roses both have a strong, pleasant aroma, unlike many other flowers.
-
They are considered flowers with daya spiritual (spiritual energy) that harmonize with the soul of the deceased.
-
Cultural Aesthetics
-
Practical Aspect
-
Both flowers are abundant in Java, easy to grow, and available in markets, which made them the traditional choice historically.
That’s why you’ll rarely see chrysanthemums, orchids, or other flowers at cemeteries in Java. The culture crystallized around melati and mawar because they balance spiritual symbolism, availability, and aesthetics.
👉
1 February 2024 EREVELD SEMARANG
Dutch cemetery 🪦 in Semarang video 📷 📸:
https://youtube.com/shorts/1UE-94F8P9o?si=W9NAujUKwIIUvbn3
ROMO SANJAYA MUNTILAN
Tempat kenangan Mama dan Papa. Mama dan Papa berdoa dan ziarah kesini. Berdoa pada Tuhan lalu menulis permintaan di buku tamu, akhirnya..saya hadir dalam kehidupan mereka..:)
Tempatnya tenang
MAKAM KELUARGA (EYANG )
 |
| Eyang Kakung Djakiman Brotosusastro |
& Eyang Putri Elisabeth Tentrem
 |
| Eyang Buyut ( Mama 👩Eyang Kakung) MM Setroredjo 1892 - 1966 ) |
 |
| Y Sastrosoeparno 1925-1995 ( Kakak Eyang Kakung) |
 |
| T. Setroredjo ( Ayah 👨👴Eyang 👴👵Kakung) 1884-1965 |
 |
| Nisa Perjamuan Custom.. Eyang Kakung & Eyang Putri 🙎👸 |
Mungkinkah Eyang Anda Keturunan Marrano?
Bisa jadi. Berikut tanda-tanda yang menguatkan kemungkinan itu:
✅ Ada Star of David pada makam → simbol Yahudi kuno
✅ Ada ukiran Perjamuan → penanda “resmi” Kristen
✅ Kombinasi keduanya sangat khas Marrano atau crypto-Jew
✅ Jika keluarga Anda berasal dari daerah pantai utara Jawa, kota pelabuhan seperti Semarang, Surabaya, atau Makassar, kemungkinan ini semakin besar
✅ Nama-nama leluhur seperti Elias, Sulaiman, Salim, Harun kadang juga terkait
Pada masa VOC, orang Portugis & Belanda keturunan Marrano atau Sephardic masuk ke Nusantara sebagai:
Beberapa menyembunyikan identitas Yahudi tapi menyelipkan simbol tertentu di rumah atau makam:
-
Bintang Daud untuk perlindungan
-
Nama-nama seperti Salomo, Daud, Abraham, Ruben
-
Ornamen Perjamuan untuk menyamarkan sebagai Kristen
==>> and true. We always hide our identity... Ayah eyang selalu info Untuk bilang saja orang Indonesia 🇮🇩
 |
| Pakdhe Welly |
DERESAN EYANG PRAPTONO ( PAPA TANTE ITO) 17 Juni 2025
EYANG KAKUNG & CAKRABIRAWA
Eyang Kakung adalah anggota pengawal presiden Soekarno. Lalu diminta pulang H-1 oleh kakak eyang Kakung ( Mbah Sastro yang saat itu juga military 🎖️ 🪖). Hari berikutnya banyak pengawal pribadi Soekarno ditangkap dan dimasukkan ke lubang buaya. Eyang saya diselamatkan oleh kakaknya!